Usaha SME Perlu Pembinaan Agar Naik Kelas Menjadi Waralaba

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada 14 Juni 2019 saya diundang pihak penyelenggara SME 100 Awards 2019, di JW Marriot Kuningan. Anugerah penghargaan tersebut diberikan SME Magazine kepada para pelaku small medium enterprise yang terpilih karena telah memenuhi kriteria. Mereka adalah para pengusaha dari kalangan menengah bawah yang berhasil menjalankan usahanya dengan baik.

Ada beberapa kriteria yang ditetapkan SME Magazine untukmenyaring pemenang dalam SME 100 Awards. Kriteria tersebut antara lain ditekankan pada pertumbuhan atau growth usaha, profitability, dan market share. Kemudian usahapara pelaku SME juga sudah mengarah pada ketahanan atau budaya bertahan, sustainability dan best practice yaitu suatu pengalaman yang mereka lakukan yang sudah baik.

Ada sekitar 30 plaku SME yang di meriah SME 100 Award. Usaha mereka bergerak dalam bidang macam-macam, mulai makananseperti madu, kebab. Ada usaha sepatu, sandal. pigura. Ada pula usaha unik lainnya seperti tiket the moon. Kebanyakan mereka dari industri kreatif,dan kerja sama  dengan KADIN.

Usaha para SME yang mendapat anugerah SME 100 Award 2019 memiliki potensi yang baik jika dikembangkan dengan serius. Mereka juga bisa naik tingkat menjadi usaha franchise. Namun untuk naik kelas menjadi usaha waralaba memang perlu wawasan dan ilmu, juga komitmen yang serius.

Cuma memang hambatannya adalah pada pelaku usaha SME di Indonesia itu mudah cepat puas dan mau cepat jadi. Para pelaku BO yang ada di Indonesia pun demikian. Karena itu, mereka sulit naik kelas menjadi waralaba yang memiliki kinerja global. Berbeda dengan pelaku SME luar negeri yang serius memperbaiki dan membuat inovasi usaha terus menerus sehingga di kemudian hari menjadi usaha unggulan yang berhasil difranchisekan.

Selain itu, support dari pemerintah juga diperlukan. Misal pinjaman dengan bunga yang lebih rendah khusus bagi pelaku SME yang ingin memperluas usahanya, atau bagi investor yang ingin mengambil usaha franchise. Ada pula biaya pendidikan. Di luar negeri pemerintahnya tidak main-main untuk mengucurkan biaya pendidikan dan pembinaan bagi industri franchise.

Setidaknya, pemerintahnya memberi support ke luar negeri paling sedikit booth disediakan dan ongkos perjalanan, konsultan ditanggung 75% oleh pemerintah kepada yang mau memfranchisekan usaha. Sementara pelaku usaha tersebut hanya nanggung biaya 25%.

Harus diakui, pemerintah Indonesia belum full mensupport industri ini padahal kita sudah berdiri sejak tahun 1991, yang tertua di Asia. Disamping itu kita perlu meningkatkan konsultan yang bertaraf internasional. Rata-rata masih standar lokal. Hanya beberapa yang memiliki kapabilitas internasional. Ada juga konsultan yang sudah memaksa orang yang kriterianya belum cukup franchise untuk franchise.

 

 

 

Trend Baru di Industri Bisnis dan Waralaba
Banyak perubahan bisnis yang terjadi belakangan ini. Sejak mudahnya akses internet melalui gadget dan smartphone, maka pola belanja konsumen pun banyak yang berubah. Konsumen yang biasanya harus bersu
Read More
Pergantian Master Franchisee, mungkinkah?
Beberapa saat yang lalu ada seseorang yang bertanya kepada kami selaku Asosiasi Franchise Indonesia. Apakah mungkin terjadi pergantian Master Franchisee dari pihak pertama ke pihak lainnya, seperti ya
Read More
Franchise dan Generasi Millenial
Generasi milenial (Millennial Generation) adalah generasi yang lahir dalam rentang waktu awal tahun 1980-an hingga tahun 2000. Generasi ini sering disebut juga sebagai Gen-Y, Net Generation, Boomerang
Read More
NextGen Franchising, Tema yang Akan Meramaikan WFSI
World Franchise Summit Indonesia 2016 (WFSI) akan diselenggarakan bulan depan. Acara besar berlevel internasional itu akan dihadiri oleh delegasi asosiasi franchise dari berbagai negara. Salah satunya
Read More