Budiyanto Darmastono, Mantan Pegawai Bank Yang Sukses Mendirikan Bisnis Kurir Android

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0

Filename: views/V_article_details.php

Line Number: 14

Backtrace:

File: /home/trie/public_html/application/views/V_article_details.php
Line: 14
Function: getimagesize

File: /home/trie/public_html/application/views/V_page.php
Line: 104
Function: view

File: /home/trie/public_html/application/controllers/C_article.php
Line: 121
Function: view

File: /home/trie/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(https://www.majalahfranchise.com/res/fiona/drive/uploads/13284905723-600.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found

Filename: views/V_article_details.php

Line Number: 14

Backtrace:

File: /home/trie/public_html/application/views/V_article_details.php
Line: 14
Function: getimagesize

File: /home/trie/public_html/application/views/V_page.php
Line: 104
Function: view

File: /home/trie/public_html/application/controllers/C_article.php
Line: 121
Function: view

File: /home/trie/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

Dia adalah Budiyanto Darmastono, sosok di balik lahir dan berkembangnya PT Satria Antaran Prima (SAP Express), perusahaan logistik berbasis Android pertama di Indonesia. SAP Express lahir dengan visi-misi besar yang sudah tidak asing pada teknologi.

SAP Express berdiri pada 9 November 2014. Perusahaan ini mampu menebar 40 cabang dan 200 titik gerai di Indonesia hanya dalam tempo setahun. Berkat capaian tersebut, pada Mei 2015 silam perusahaan yang identik dengan warna oranye ini menjadi salah satu peraih Rekor Bisnis Indonesia (ReBI) yang ke-13 sebagai Perusahaan Kurir Pertama dengan Mobile System berbasis Android serta Pembukaan Kantor Tercepat dan Terbanyak Dalam 6 Bulan.

Selain ReBI, dua penghargaan lain juga berhasil direngkuh oleh SAP Express di tahun yang sama, yakni Franchise Startup Award dan Indonesian Inspire & Best Company Award. Setahun berselang, tepatnya 2016, SAP Express meraih Indonesia Franchise Marketing Award dan dua tahun setelahnya sebuah penghargaan kembali hadir, yakni The Most Promising Brand 2018.

Berbagai penghargaan itu tentu bukan target utama yang ingin diraih oleh Budiyanto. Dalam sebuah kesempatan, Budiyanto sempat mengungkapkan target yang ingin diraihnya bersama SAP Express. Pencapaianya saat ini ialah memiliki 1.000 gerai dan dapat melantai di bursa saham. “Target saya 5 tahun perusahaan ini sudah Go Public,” ucapnya.

Kini, saat usia perusahaannya akan berusia 5 tahun, Budiyanto telah menyatakan siap melakukan penawaran perdana (IPO) di bursa saham menjelang akhir tahun 2018. SAP diketahui bakal melepas 60% sahamnya dengan harga awal di angka Rp 220 – Rp 260 per lembar saham.

Sementara, dana yang akan diterima nantinya dari IPO ini akan digunakan untuk merealisasikan targetnya yang ingin menumbuhkan 1.000 gerai.

 

SAP Express bukan merupakan perusahaan logistik pertama yang dilahirkannua. Sebelumnya, pria kelahiran Karanganyar, Solo, 1967 silam ini ternyata pernah menjadi salah satu aktor dari berdirinya sebuah perusahaan logistik kenamaan pada 1994 silam. Perusahaan itu bernama PT Nusantara Card Semesta atau yang lebih dikenal sebagai NCS.

Selama 17 tahun lamanya Budiyanto turut membesarkan NCS lewat tangan dinginnya, sebelum kemudian sebuah gejolak internal mendorongnya untuk melepaskan seluruh aset dan pengaruhnya dari perusahaan tersebut. “Akhirnya pertumbuhannya sangat cepat. Sampai tahun 2011, kemudian saya tinggalkan NCS,” katanya.

Budiyanto terlahir dari keluarga guru, di mana ayah dan ibunya adalah guru, pun dengan ketiga kakaknya yang mengikuti jejak menjadi guru, nyatanya tak membuat Budiyanto remaja punya cita-cita menjadi guru. “Karena yang saya lihat di zaman dulu, kehidupan guru itu susah karena hidup pas-pasan. Dulu saya pun hidup susah, sekolah pun susah. Sehingga saya putuskan ketika SMA itu saya cita-cita ingin menjadi pegawai bank,” kenangnya.

Sementara, cita-cita menjadi pegawai bank tentu bukan muncul tanpa alasan. Budi begitu percaya bahwa dengan menjadi pegawai bank dapat mengubah garis nasibnya. Selepas menempuh pendidikan Akuntansi D3 di Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Budi memutuskan merantau ke Jakarta. Ia pun bekerja di salah satu perusahaan kartu kredit dunia, Diners Club International sebagai account officer. Di tahun ’90-an, kala itu Budi baru mendapat upah Rp 2 juta per bulan.

Kantor itu beralamatkan di Jalan Tali, Jakarta Barat. Budi butuh waktu menyusun pengorganisasian kantor sampai hal kepengurusan ijin. Saat itu pemain di bisnis jasa kurir masih sedikit tidak seperti sekarang. Fokus usahanya pertama kali adalah jasa card center. Yakni jasa pengiriman kartu terutama kartu kredit dari pihak bank.

Namun, sadar akan pendidikannya yang hanya D3, di sela-sela bekerja Budi memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya. Ia pun memilih menempuh pendidikan S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STEI) Rawamangun, Jakarta. “Saya memang mendalami akutansi karena suka hitung-hitungan,” akunya.

Sedikit demi sedikit, dari ragam bisnis sampingan yang dijalani Budi pun bisa menabung untuk modal. Waktu itu, tahun 1994, Budi yang berusia 27 tahun memutuskan menggunakan modal Rp 25 juta untuk mendirikan perusahaan kurir bersama istri dan rekan kerjanya. Perusahaan itulah yang saat ini dikenal dengan NCS. “Karena saat itu di tahun 1994-1995 saya lihat bisnis kurir ini masih sangat sedikit pemainnya, tapi pangsa pasarnya besar sekali,” ungkap Budi.

Kala itu NCS memang mengambil pangsa pasar kurir dokumen perusahaan sebagai target utama. Namun, di enam bulan pertama Budi masih memijakkan setengah kakinya di NCS. Artinya, Budi masih berposisi sebagai karyawan dan belum benar-benar 100% menggarap NCS.

Keputusan Budi untuk mundur sebagai seorang karyawan ketika ia tersadar bahwa NCS tak mengalami perkembangan di 6 bulan pertamanya. “Akhirnya saya keluar dan pelan-pelan NCS pun naik kemudian setelah mendapatkan pekerjaan untuk mengirimkan dokumen, billing statement, paket. Modal saya itu dulu hanya Rp 25 juta. Karyawan saya hanya 5 orang. Dengan uang itu saya hanya bisa menyewa garasi kecil sekali di Slipi, Jakarta Barat,” paparnya.

Budi mengklaim bahwa saat itu NCS sangat berbeda dengan perusahaan kurir lainnya. Di tahun 1995, kala perusahaan kurir lain masih manual, NCS justru tampil dengan teknologi meski terbilang sederhana, semacam penerapan resi pengiriman. “Yang penting semua pengiriman (datanya) di input dan bisa laporan ke klien,” ujarnya.

Kendati pernah terkena dampak krisis moneter 1998, namun NCS mampu terus bangkit dan berkembang. Sebelum kemudian perbedaan mendorongnya untuk melepaskan NCS  pada 2011. Namun, pada 2014 Budi kembali ke bisnis kurir dengan mengerek benderanya sendiri, yakni SAP Express.

Pernah menahkodai perusahaan kurir dari nol sampai berkembang selama 17 tahun tentu sudah membuat Budi tak hanya kenyang pengalaman, tapi juga berbagai strategi ulung. Berkat itulah ia pun mampu mendorong SAP Express melejit.

“Di perusahaan yang lain belum ada yang menggunakan teknologi Android. Dan ketika saya buka pada September 2014 kemarin, saya memang langsung meluncurkan sistem yang begitu launching menggunakan teknologi Android, di mana perusahaan lain belum menjalankan,” klaimnya.

Budi adalah seorang pebisnis yang punya latar belakang pendidikan akuntansi namun sangat mementingkan teknologi. Baginya, penerapan teknologi di era ini menjadi keharusan yang hakiki.

Hal kedua yang membuat SAP Express mampu berkembang pesat ialah strategi Budi dalam merekrut karyawan. Budi mengakui bahwa dirinya menganut konsep perbankan dalam merekrut karyawan untuk posisi strategis. “Bank itu kalau membuat perusahaan yang besarnya cepat adalah dengan cara mengambil orang-orang yang pengalaman bekerja di Bank,” katanya.

Bagi Budi, menerapkan strategi perekrutan karyawan perbankan pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa bukanlah hal yang keliru. Malah, ia menilai strategi semacam itu bisa diterapkan di banyak perusahaan. Sebab, menurutnya, strategi itu merupakan cara jitu lagi cepat untuk mengembangkan perusahaan yang baru berdiri.

“Kalau kita membuat perusahaan baru, lalu kita mengambil orang yang baru dan belum berpengalaman, maka itu akan sulit dan lama,” tukasnya.

Sederhananya, melalui strateginya ini otomatis berbagai ilmu dari perusahaan sejenis yang tertanam di benak karyawan-karyawannya dapat terkumpul menjadi satu. Kemudahanlah yang lantas didapatkan oleh Budiyanto sebagai Direktur Utama. Ia cukup memadukan berbagai ide dan ilmu untuk kemajuan SAP Express.

Namun, Budi mewanti-wanti satu hal yang mesti dipahami oleh pengusaha apabila ingin mengikuti jejaknya dalam bajak membajak karyawan. Yakni perusahaan yang menganut konsep seperti ini perlu mengeluarkan dana yang lebih besar.

“Jadi, ada dua konsep dalam hal bisnis. Apabila modal kita kecil harus pelan-pelan karena tidak bisa rekrut orang. Kedua, kalau ada modal harus berani rekrut orang. Tapi ada catatannya, kita berani rekrut orang yang berpengalaman dengan gaji besar, tapi dia harus memberikan effort yang jauh lebih besar kepada perusahaan,” pungkasnya.

Alvin Pratama

Novita Sianipar, Ingin Bekerja yang Turut Membangun Bangsa
Sebelumnya, wanita dengan nama lengkap Novita Sianipar ini berkarir di perusahaan advertising dengan posisi sebagai Account Manager. Dengan posisinya itu, ia menghabiskan waktu kerjanya dengan dunia i
Read More
Salman Subakat, Marketer Dibalik Kesuksesan Wardah
Layaknya sebuah pencapaian, apa yang dihasilkan Wardah di bawah kepemimpinan Salman bukanlah sesuatu yang instan. Jauh sebelumnya, Wardah juga gencar melakukan penetrasi pasar dengan berbagai kegiatan
Read More
Elihu Nugroho Lahirkan Ide Cuci Mobil Tanpa Air
Elihu Nugroho adalah salah satu pengusaha yang kreatif dan jeli melihat masa peluang bisnis yang belum digarap banyak orang. Pria ini melahirkan konsep mencuci tanpa menggunakan air yang nyatanya belu
Read More
FX. Ricky Ferdinan Sutrisno, Masih Muda, Pria Ini Berhasil Kembangkan Waralaba Kebab
Jika memiliki keinginan yang kuat, apapun itu mungkin kita bisa meraihnya. Kalimat inilah yang mewakili usaha dan kerja keras Ricky Ferdinan, selama membesut bisnis kebabnya. Di usianya yang tergolo
Read More