Atraktif-kah Penawaran Waralaba anda?

Untuk bisa menjual waralaba anda, dibutuhkan informasi penawaran waralaba yang menarik. Bila penawarannya tidak menarik, bagaimana mungkin pemilik dana akan berminat pada bisnis yang anda waralabakan?

 

Meski demikian, tahukah anda, bahwa melihat penawaran waralaba yang terlalu menarik, maka calon Penerima Waralaba yang kritis akan bertanya-tanya. “Kalau bisnis ini benar-benar memberikan keuntungan sedemikian besar, mengapa tidak meminjam ke Bank saja? Pasti banyak Bank yang bersedia antre memberikan pinjaman modal usaha.”

 

Atraktif & Benar

Persoalannya adalah informasi penawaran waralaba yang Atraktif dan Benar itu jarang sekali dijumpai. Penawaran yang atraktif tentu menyangkut jangka waktu balik modal yang cukup memuaskan, yaitu 2-3 tahun. Para pemburu waralaba memang banyak yang mencari jangka waktu balik modal 1-2 tahun, dan harus diakui kecepatan balik modal seperti itu jarang terjadi untuk investasi di atas Rp 300 juta.

 

Seandainya ada yang menyajikan data keuangan dengan jangka waktu balik modal 1-2 tahun, kita harus jeli mengamati dan mempertanyakan asumsi-asumsi yang digunakan. Apakah biaya sewa loasi sudah dimasukkan sebagai biaya bulanan? Apakah biaya-biaya waralaba (biaya awal dan biaya bulanan) sudah dimasukkan juga? Apakah makna balik modal itu berdasarkan arus kas untuk seluruh biaya investasi, dan bukan hanya paket waralaba saja? Apakah  makna balik modal itu berdasarkan EBITDA dan hanya aset saja, atau aset dan biaya-biaya pra operasional?

 

Banyak asumsi yang berpotensi membuat informasi penawaran waralaba yang atraktif itu ternyata tidak dibarengi dengan kebenaran yang utuh.

 

Atraktif, tapi Tidak Benar

Informasi penawaran waralaba yang banyak dijumpai mungkin lebih banyak masui kategori Atraktif tapi Tidak Benar. Selain “bermain” dengan asumsi-asumsi yang menyesatkan, atau hanya menampilkan sebagian dari kebenaran yang utuh, adapula yang informasi Atraktif tapi Tidak Benar yang mengarah pada penipuan.

 

Menampilkan angka-angka proyeksi bisnis yang fiktif dalam arti tidak pernah terjadi dalam perjalanan bisnis Pemberi Waralaba merupakan contoh penawaran waralaba yang mengarah pada penipuan. Apalagi bila kemudian ketika digali lebih mendalam ternyata tidak mungkin dicapai meski kapasitasnya mencapai 100% dari sumberdaya dan fasilitas yang dimiliki.

 

Salon dan spa misalnya. Sumberdaya dan kapasitas yang dimiliki jelas terbatas pada kursi, jumlah ruangan atau bed perawatan, dan jumlah pegawai dan/atau terapis. Dengan memperhitungkan waktu layanan, maka kapasitas maksimalnya dapat diukur.

 

Untuk bisnis laundry kiloan mungkin ukuran kapasitas maksimal adalah mesin cuci, mesin pengering, dan jumlah meja setrika serta tenaga pegawai untuk melakukan proses penyetrikaan. Berbeda dengan salon dan spa, fasilitas dan kapasitas untuk bisnis laundry kiloan ini biasanya bisa mudah ditambah, dengan penambahan mesin (bila masih ada ruang untuk hal ini) dan tenaga kerja. Salon dan spa mungkin saja melakukan ekspansi tambahan ruangan atau menyewa ruko sebelah, tapi jarang sekali bukan?

 

Untuk restoran, jumlah kursi dan lana waktu yang dibutuhkan untuk makan bisa jadi bahan pertimbangan dalam mengukur kapasitas. Tentu saja yang agak sulit adalah trend tumbuhnya layanan antar go-food dan sejenisnya yang membuat kita harus mengukur pula dari kapasitas dapur dan tim di dapur.

 

Intinya adalah, jumlah target omset harus kita bedah hingga asumsi-asumsi untuk mencapainya, yaitu jumlah struk transaksi atau jumlah pelanggan, nilai transaksi per struk atau per orang, dan kapasitas fasilitas yang kita miliki.

 

Tidak Atraktif, tapi Benar

Yang lebih jarang dari informasi penawaran waralaba yang Atraktif & Benar adalah informasi penawaran yang Tidak Atraktif, tapi Benar. Menyajikan informasi apa adanya meski tidak menarik tentu dihindari oleh para Pemberi Waralaba.

 

Biasanya Pemberi Waralaba akan berupaya memperbaiki kinerjanya lebih dulu sebelum diwaralabakan. Bila ada yang ngotot hendak membeli waralabanya, maka saya biasanya menyarankan untuk menjelaskan apa adanya sambil ditambahkan bahwa saat ini sedang dalam proses memperbaiki kinerja.

 

Apakah ada pemilik modal yang tetap mau membeli waralaba yang masih belum cukup baik kinerjanya? Bisa jadi ada, bila calon Penerima Waralaba yakin bahwa merek dan konsep bisnis itu akan menghasilkan omset dan profit yang lebih tinggi di wilayahnya. Dalam hal ini biasanya Pemberi Waralaba perlu membantu menyusun simulasi proyeksi dan target-target yang menjadi asumsi kelayakan bisnis tersebut di wilayah yang dikehendaki oleh calon Penerima Waralaba, agar tidak terjadi miskomunikasi di belakang hari.

 

Tidak Atraktif dan Tidak Benar

Bila kita membuat matriks terkait Daya Tarik (Attractiveness) dan Kebenaran (Truth/Validity), maka muncul pertanyaan apakah ada informasi penawaran yang Tidak Atraktif dan Tidak Benar? Bisa jadi ada, tapi hanya suatu “kecelakaan” yang mengakibatkan munculnya informasi yang Tidak Atraktif dan Tidak Benar. Bisa jadi Pemberi Waralaba hendak menampilkan informasi bahwa bisnisnya masih belum cukup menarik, namun ada beberapa asumsinya yang keliru.

 

Akhirnya saya sampaikan prinsip penting dalam Public Relations yang wajib diikuti oleh para pebisnis waralaba: “Honesty is the best policy.” Mari kita menjalankan bisnis waralaba dengan kejujuran karena tanpa kejujuran maka kepercayaan akan hilang.

 

 

© 2018, Utomo Njoto .. untuk Maret 2018

Senior Franchise Consultant dari FT Consulting – Indonesia.

Website: www.consultft.com

Email : utomo@consultft.com

 

Ancaman Perubahan
Sepak terjang teknologi komputer dan digital telah menjadi ancaman nyata bagi para pebisnis yang tidak siap beradaptasi. Disadari atau tidak, artis pelukis airbrush papan reklame besar saat ini sudah
Read More
Multi-Strategy
Waralaba sejatinya merupakan salah satu cara mengembangkan usaha, dan menurut UU Perdagangan waralaba merupakan salah satu cara distribusi produk (barang atau jasa) secara tidak langsung. Karena merup
Read More
Pricing for Higher Profit
Apakah strategi penetapan harga anda menggunakan pola sama rata untuk semua produk yang anda jual? Atau sama rata untuk produk-produk dalam kategori yang sama? Apakah anda menghadapi kesulitan bersain
Read More
Tidak Harus Waralaba
Waralaba itu pada prinsipnya merupakan upaya pengembangan bisnis. Waralaba bukan satu-satunya jalan untuk mengembangkan bisnis kita. Ada banyak pilihan dengan segala pro dan kontranya, dengan segala b
Read More