Menjadi Pengusaha Harus Punya Wisdom

Kemajuan suatu bangsa tidak lepas dari kiprah pengusaha. Semakin banyak pengusaha sukses di dalamnya, maka umumnya sebuah bangsa lebih maju. Tengok saja Amerika. Negara adikuasa ini memiliki jumlah pengusaha yang banyak dibanding negara-negara maju lainnya.

Para pengusaha sukses seperti Bill Gates, Warren Buffett, Jeff Bezos merupakan lokotif kemajuan perekonomian Amerika. Belakangan, di kalangan muda juga tidak mau kalah. Mark Zuckerberg pendiri Facebook, Garrett Camp pendiri Uber Technologies, serta Larry Page dan Sergey Brin pendiri Google turut menciptakan industri baru.

Mereka adalah penggerak perekonomian yang membuat Amerika terus maju seperti saat ini.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia sebetulnya banyak lahir pengusaha-pengusaha yang mumpuni. Mereka juga menjadi penggerak perekonomian Indonesia. Namun sayang jumlahnya tidak banyak.

Pengusaha-pengusaha semacam William Soeryadjaya pendiri Astra, Mochtar Riady pendiri Lippo Group, Ir Ciputra pendiri Ciputra Group, adalah pengusaha yang berhasil membangun industri bisnis di sektor masing-masing. Mereka maju bukan karena dekat dengan penguasa, tapi lahir dari lapangan dan professionalisme tinggi.

Jadi mereka memang punya unsur entreprenuship yang tinggi seperti tekun, rajin, ulet, dan sebagainya. Tapi juga punya sifat hemat, dan tidak puas. Tapi mereka tidak  berlebihan. Hemat bukan lantas menjadi pelit. Tidak selalu puas, bukan berarti tidak terkendali dan menjadi serakah sehingga memakan pesaing dulu sebelum dimakan pesaing.

Akan tetapi mereka punya yang namanya wisdom bisnis. William Soeryadjaya misalnya, dia memiliki nilai-nilai bisnis yang terus dipegang oleh generasi penerusnya. Astra merupakan buah dari nilai-nilai bisnisnya yang dirintisnya sejak dahulu. Hasilnya, Astra tetap menjadi perusahaan besar hingga kini.

Salah satu wisdom bisnis William adalah mempercayakan perusahaan dipegang oleh para professional terbaik di bidangnya. Dia juga memiliki visi yang kuat di mana perusahaan harus tumbuh secara baik dan konsisten terus menerus.

Satu hal lagi yang penting, William tipikal pengusaha bersih yang menghindari KKN dan tertib pajak. Bahkan, dia juga rela mengorbankan Astra untuk melunasi hutang-hutang Bank Summa yang kala itu didirikan Anaknya. Padahal dia bisa saja menghindar dari hal tersebut.

Mochtar Riady, seperti yang kita tahu dia memiliki wisdom yang sangat baik, dia seorang professional tulen yang mengerti memahami betul dunia perbankan. Sementara Ciputra, adalah penggerak property di Indonesia. Dia yang menyulap sebuah rawa di Jakarta menjadi Taman Impian Jaya Ancol, dia pula yang merintis perumahan di kota Jakarta, diantaranya Rumah Minimum.

Memang tidak mudah untuk menjadi pengusaha yang tulen. Tidak hanya bermodalkan keuletan dan kerja keras saja, serta mengandalkan siasat, tapi juga dibutuhkam kearifan dan wisdom yang baik untuk mewujudkan visi besar di masa depan. Dengan begitu bisa lahir pengusaha-pengusaha unggulan yang karyanya tidak lekang digilas zaman. 

 

 

 

 

 

Usaha SME Perlu Pembinaan Agar Naik Kelas Menjadi Waralaba
Beberapa waktu lalu, tepatnya pada 14 Juni 2019 saya diundang pihak penyelenggara SME 100 Awards 2019, di JW Marriot Kuningan. Anugerah penghargaan tersebut diberikan SME Magazine kepada para pelaku s
Read More
Lisensi, Keagenan, BO dan Franchise. Serupa Tapi Tak Sama
Bisnis franchise memang sudah familiar di Indonesia saat ini. Berbeda jika kita tengok pada 10 atau 20 tahun yang lampau, di mana banyak orang di dunia bisnis yang belum begitu aware dengan franchise.
Read More
Berkorban Demi Konsumen di Masa Krisis
Ekonomi Indonesia tengah mengalami penurunan satu tahun terakhir ini. Beberapa perusahaan mengambil kebijakan yang tidak populis seperti stop berekspansi, menaikkan harga jual produk, mengurangi ukura
Read More
Waralaba Perlu Pembinaan
Industri waralaba memang tengah tumbuh pesat beberapa dekade ini. Sebagai konsep pemasaran, waralaba dinilai cukup efektif menumbuh-kembangkan sebuah usaha dengan cepat, dari sekala kecil menjadi jeja
Read More