Hendy Setiono, Dari Modal 5 Juta Berhasil Berbisnis Kebab Hingga ke Mancanegara

Memulai usaha dengan modal 5 juta rupiah, Hendy Setiono berhasil mendirikan group kuliner yang kesohor hingga ke mancanegara. Bagaimana kisah suksesnya?

Nama pria yang satu sudah tak asing lagi di jagad kuliner Indonesia. Siapa yang tidak kenal mengenal Kebab Turki Baba Rafi. Hampir di setiap pelosok daerah Indonesia terdapat kuliner yang satu ini. Sebagai pelopor waralaba kebab di Indonesia, Kebab Turki Baba Rafi tidak hanya dikenal pasar domestik saja, tapi juga sudah merambah manca negara.

Kini, Kebab Turki Baba Rafi telah memiliki hampir 1.300 outlet yang tersebar di Indonesia, India, Malaysia, Filipina, Bangladesh, Singapura, Srilanka, Brunei Darussalam, China, hingga Belanda. Omzet bisnisnya pun tergolong memuaskan mitra binisnya.Perharisekitar 100-130 Produk, dan  3500 produk  perbulan tiap outletnya.

Ya, Hendy Setiono. Pria yang sukses mendirikan Kebab Turki Baba Rafi yang sudah kesohor hingga mendunia. Padahal, ia memulai usaha ini dengan modal 5 juta rupiah yang diawali dengan satu gerobak. “Dari satu gerobak hingga bisa ekspansi ke 10 negara cukup bangga, dan ingin sekali membantu UKM-UKM dengan kesadaran merk dan memberikan pengertian bahwa bisnis itu harus memahami dari ujung hingga ke hilir,” katanya.

Hendy mendirikan usaha ini saat dirinya duduk di bangku kuliah pada tahun 2002. “Saat mengunjungi Ayah di Qatar, saya suka sekali dengan makanan kebab ini, karena di Indonesia tidak ada. Akhirnya coba buat sendiri dan ingin mengenalkan ke pasar Indonesia. Selain itu, alasan kuat usaha ini karena hobi kuliner dan ingin hidup mandiri dengan berwirausaha sejak remaja,” bebernya.

Ketika memulai usaha, tidak ada rencana khusus. Ia learning by doing. Hanya waktu itu ia mencermati setiap ide yang dilontarkan dari pelangganya. “Masukan dari pelanggan sangat menjadi motivasi dalam menjalankan usaha ini. Di samping itu mengikuti seminar-seminar, mengikuti mentor-mentor bisnis dan pastinya membaca untuk menambah wawasan,” kenangnya.

Untuk memenuhi keperluan bisnisnya, Setiap hari Hendy belanja di pasar pagi, membakar daging dengan membuat burner Kebab dengan kolega. “Sampai pada akhirnya bisa membuat di workshop hingga memiliki peralatan yang efektif,” jelasnya.

Di Awal usaha Ia yakin usahanya bisa menuai hasil di kemudian hari meski tidak restu orang tua, dan dicemooh teman-teman karena saat kuliah berjualan dengan gerobak di pinggir jalan. “Sulit mencari karyawan yang jujur dan disiplin hingga sulit mencari bahan baku karena banyaknya permintaan pelanggan adalah kendalanya,” katanya menceritakan halangan dan kendala ketika di awal-awal menggeluti usahanya.

Kendati demikian, Hendy terus fokus mengembangkan usaha kebabnya. Akan tetapi, ketika usahanya mulai berkembang, ia tergoda mencicipi usaha lainnya di luar jalur kebab dan berakhir tanpa hasil. “Saya sempat keluar jalur karena ingin berkreasi lebih seperti Pizza Kebab, Nasi Goreng Kebab hingga berjualan Bebek Goreng, karena belum memiliki team yang solid banyak waktu yang tidak efektif dan pendataan tidak berjalan,” ujarnya yang

Kendala lainnya soal rasa. Menurut dia, usaha kuliner tentunya soal rasa. Beberapa segment, katanya suka dengan rasanya namun yang lain tidak begitu menyukai, “sangat diperlukan improvisasi agar produk kita bisa unggul dan diterima oleh pasar,” jelasnya.

Selain rasa, pria yang sebelumnya sempat mencicipi usaha burger ini menemui kendala lainnya yaitu harga produk. “Menyikapi naiknya BBM dan inflasi menyebabkan bahan baku ikut naik, agar tetap profitable pastinya kenaikan harga produk ikut disesuaikan, Revenue Drop karena Franchise dan Pelanggan memerlukan waktu untuk menstabilkan finansial mereka,” jelasnya.

“Karena minimnya ilmu, belum memahami keunggulan, belum mengerti range harga pada lokasi yang ingin dipenetrasi, terlalu murah salah, terlalu mahal haruslah pantas,” kata dia yang juga menjadi hambatan ketika menjalankan proses bisnis kebab. Namun lambat laun Hendy menemukan ritme bisnisnya.

Sampai suatu ketika, ia menawarkan peluang franchise. Dari situlah usahanya tembah maju, mulai banyak investor berdatangan hingga dari luar kota. “Menerapkan sistem Franchise memerlukan modal untuk kesiapan bahan baku dan stock gerobak, mendapatkan kesempatan modal yang cukup besar dalam penilaian UKM yang berkembang oleh salah satu Bank BUMN,” katanya.

Hal itu, sambung dia, untuk membuka lapangan kerja dan memajukan ekonomi Indonesia. “Setelah 5 tahun mulai membentuk team management yang lebih professional dengan tenaga ahli hingga perusahaan stabil dan siap melakukan ekspansi,” tuturnya.

Lalu bagaimana Anda memasarkan bisnis ini hingga sukses? “Saya selalu menyambut positif dengan media cetak atau digital. Tetap sempatkan diri untuk memberikan informasi keunggulan produk dan selalu dekat dengan pelanggan. Pemilik usaha harus mengasah ketrampilan Public Speaking, karena Brand harus selalu mendapatkan awareness dan keep in touch dengan pelanggan,” jawabnya.  

“Lalu mengikuti event-event, memenuhi undangan televisi, produk makan dikenal semua makin penasaran barulah mulai menyiapkan Budget tersendiri untuk Promosi dan membesarkan nama Brand,” tambahnya.

Faktor Pendukung usaha lainnya, kata dia, support dari teman temannya yang juga merintis usaha. “Mengikuti seminar-seminar sesuai dengan ilmu apa yang sedang dibutuhkan dalam usaha,” terangnya. 

Setelah itu, Hendy mulai merekrut tenaga-tenaga profesional, sehingga administrasi mulai terbentuk dari yang umum hingga kebutuhan administrasi yang spesifik. “Produksi dan penyimpanan saya mulai di Garasi Rumah, Belajar in out, Belajar wrapping yang rapi dan mulai mengerti pentingnya FIFO mencegah kerusakan barang karena retensi waktu,” jelasnya. 

“Kuncinya adalah mulai Action kemudian evaluasi setiap harinya dan lakukan perbaikan. Jangan lupa pula control dan selalu inovasi adalah kunci menghadapi perubahan zaman yang serba cepat,” ungkapnya.

Rencana mendatang, Hendy ingin membuat pabrik dan bahan makanan sendiri, mulai pertambakan, perkebunan hingga memiliki kantor di Amerika

Selama menggeluti usaha ini banyak suka dan duka yang dilalui Hendy. Dukanya pernah uang dibawa kabur oleh karyawannya, outlet terkena badai dan bencana. “Saya tidak punya waktu weekend dan liburan,” tandasnya lirih.  

“Sukanya pastinya banyak sekali, salah satunya membuka lapangan kerja hingga 800 karyawan, bisa berbagi kepada masyarakat. Karena Usaha milik sendiri tentunya kebebasan Finansial adalah keberhasilan memulai usaha dari bangku kuliah dulu,” pungkasnya.

Hendy memberikan tips siangat bagi yang ingin menekuni dunia usaha. Bagi dia, sukses itu seperti naik anak tangga. “Kamu harus mulai melangkah untuk naik ke setiap step perubahan hidup,” pungkas pria memiliki traveling wisata kuliner dan moge touring ini.

 

Zaziri

 

 

 

 

Eric Liga Saputra Uang Hanyalah Reward dari Semua Dedikasi
Dengan usia yang terbilang muda, pria yang bernama lengkap Eric Liga Saputra ini sukses membangun jaringan bisnisnya ke berbagai kota di Indonesia. Sentuhan tangan dinginnya, kreativitas dan semangatn
Read More
Kama Sulaiman, Desain Grafis yang Tekuni Bisnis Coffee Shop
Pria bernama lengkap Kama Sulaiman ini mengawali kariernya di bidang Design dan Garment. Lebih tepatnya di bidang Graphic Design dan Branding. Ia melakukan bisnis tersebut untuk sekitar 4 tahun sebelu
Read More
Fendy Julianto, Asisten Dokter Yang Banting Stir ke Bisnis Pijat Reflexy
Asisten Dokter Yang Banting Setir ke Bisnis Pijat Reflexy Fendy Julianto sejatinya mengawali kariernya sebagai asisten dokter. Namun kepandaiannya dalam melakukan pijat refleksi membawa pria kelahira
Read More
Penggagas Franchise di AJBS Group
Wanita cantik pemilik nama Indriani Suhartono ini adalah generasi ketiga, penerus salah satu perusahaan terkemuka yang bergerak di bidang trading mur dan baut di Surabaya, yaitu AJBS Group. Putri pert
Read More