Indonesia menjadi ladang yang subur untuk “bercocok tanam” bagi para investor asing. Berbagai jenis usaha berhasil dimonopoli dan akan semakin merajalela menguasai ladang bisnis di bumi pertiwi ini.
Usaha ritel menjadi salah satu incaran yang menggiurkan para investor asing. Optimistis terhadap perkembangan yang signifikan pada sektor bisnis ini dipengaruhi oleh 2 faktor. Pertama, mengingat populasi penduduk yang mencapai lebih dari 230 juta jiwa. Berdasarkan angka penetrasi usaha ritel di Indonesia, prospek perkembangan usaha ini sangat menjanjikan karena masih memiliki ruang gerak yang besar. Indonesia memiliki angka penetrasi sebesar 52 gerai/1 juta penduduk, Singapura dengan angka penetrasi sebesar 246 gerai/1 juta penduduk dan Taiwan telah mencapai angka penetrasi yang tinggi sebesar 500 gerai/1 juta penduduk. Kedua, adanya peningkatan pendapatan dan perbaikan ekonomi yang lebih baik di bandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara. Kedua faktor ini menghasilkan medan magnet dan daya tarik dalam ekspansivitas ladang bisnis mereka.
Para pakar ekonom juga memprediksikan perkembangan usaha ritel di Indonesia untuk lima tahun kedepan akan mengalami siklus musim panen dengan peningkatan sebesar 13-15 persen. Tentu ini merupakan peluang sekaligus ancaman terutama bagi peritel lokal mengingat kekuatan persaingan yang tidak setimpal.
Usaha ritel di Indonesia didominasi oleh sang raja Prancis, Carrefour. Matahari sekalipun yang dianggap cukup kuat tidak dapat berkutik banyak dengan si Raja Prancis ini. Selain Matahari, persaingan usaha ritel juga semakin sengit dengan masuknya Lotte (si Raja Korea), Giant (si Raja Malaysia) dan Superindo (si Raja Belgia) serta para peritel lokal di daerah masing-masing seperti Sri Ratu dan Rita di Jawa Tengah, Macan Yaohan dan Maju Bersama di Medan, Ada swalayan di Semarang, Yogya supermarket dan Burma di Bandung serta Citra Swalayan di Padang.
Semenjak masuk pasar Indonesia tahun 1998, dalam jangka waktu 13 tahun kini Carrefour dapat memimpin dan menguasai pangsa pasar (market share) ritel sebesar 37,98 persen. Penguasaan pangsa pasar ini melonjak secara dramatis menjadi 48,38 persen setelah berhasil mengakuisisi saham Alfa Retailindo sebesar 99 persen. Ini merupakan bukti nyata kekuatan besar si Raja Prancis yang makin tidak terbendung oleh para pesaingnya.
Secara garis besar, terdapat 3 faktor kunci keberhasilan peritel raksasa ini dalam upaya penguasaan pangsa pasar. Modal yang sangat kuat menjadi pilar utama dalam mendongkrak ekspansivitas usaha tersebut. Dalam waktu 13 tahun, Carrefour mampu membuka 84 gerai. Setiap tahun rata-rata membuka 7 gerai dimana setiap gerai menyedot dana investasi sebesar 50 miliar rupiah. Artinya setiap tahun peritel Prancis ini mengalokasikan keuangan untuk ekspansi sebesar 350 miliar rupiah. Kekuatan modal inilah yang membedakan raja ritel Indonesia ini dapat dengan mudah menguasai pasar dengan menundukkan raja ritel sebelumnya, Matahari.
Untuk mencapai produktivitas secara maksimal diperlukan sistem teknologi yang canggih. Pengintegritasan bisnis dengan teknologi terkini dapat mampu menghasilkan kualitas pekerjaan yang produktif. Tentu pengadopsian teknologi ini membutuhkan dana investasi yang besar. Selain itu, keberhasilan usaha ritel juga tidak akan luput dari manajemen yang tersistem dan profesional. Dengan didukung ketiga faktor tersebut, peritel asing akan semakin menggurita mengembangkan sayapnya dan tentu berdampak pada stagnasi pertumbuhan peritel lokal.
Dalam beberapa dekade, ekspansivitas usaha ritel raksasa diberbagai daerah semakin menjadi-jadi dan makin tidak dapat terbendung. Carrefour telah berhasil mengekspansikan gerainya di 27 kabupaten/kota. Tidak puas sebatas itu, dalam jangka waktu lima tahun kedepan Carrefour menargetkan untuk membuka gerai-gerai baru di seluruh 33 provinsi. Para pesaing raksasa lainnya pun akan turut serta mengambil tempat dan tidak akan kalah sengitnya. Ini merupakan ancaman yang serius bagi para peritel lokal di daerah masing-masing. Kemampuan menguasai pangsa pasar oleh para peritel lokal saat ini akan benar-benar diuji ketika masuknya peritel raksasa terutama Carrefour.
Hal ini bertolak belakang dengan keadaan persaingan usaha ritel di beberapa negara seperti Malaysia, Thailand, Rusia dan Italia dimana tuan rumahlah yang menguasai pangsa pasar dan menjadi raja di negerinya sendiri. Di Malaysia, persaingan ritel sangat kompetitif dan dinamis dimana Giant, sebagai tuan rumah, berhasil menguasai pasar dan menjadi raja di negeri jiran tersebut. Hal tersebut didukung oleh andil pemerintah dalam mengatur keadaaan pasar yang terlihat lebih berpihak pada “anak kandungnya” sendiri. Di Thailand, perusahaan ritel lokal, Grup Central, menjadi pemain besar di kandang negeri Gajah ini. Carrefour tidak dapat melalukan manuver secara leluasa dalam menguasai pangsa pasar yang ada. Beberapa bulan yang lalu, Carrefour dengan 47 gerai akhirnya “mati langkah” dan menjual seluruh asetnya ke Grup Casino. Di Rusia dan Italia juga berlaku hal yang sama dimana seluruh gerai Carrefour gulung tikar.
Dengan membiarkan usaha ritel raksasa ini mengembangkan sayapnya tanpa regulasi yang tepat, terlihat seakan-akan pemerintah benar-benar telah menganut sistem ekonomi neoliberalisme. Ini sesuai dengan tujuan utama neoliberalisme yaitu kebebasan individu untuk bersaing secara bebas dipasar.
Keadaan ini jelas bertolak belakang dengan asas sistem ekonomi kerakyatan dimana sistem perekonomian ditujukan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat menuju kesejahteraan. Realitas yang ada juga tidak sesuai dengan tiga prinsip dasar ekonomi kerakyatan yaitu (i) perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan; (ii) cabangcabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; dan (iii) bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Akan tetapi, dilihat dari sudut pandang yang berbeda keberadaan gerai raksasa di suatu daerah mampu menrevitalisasikan roda perekonomian daerah tersebut. Pertama, pajak yang dipungut dari ritel raksasa tersebut berjumlah sangat besar. Ini akan menambah kantong pendapatan daerah (PAD) tersebut.
Selain itu, peningkatan penyerapan tenaga kerja yang berskala besar. Dalam membuka 1 gerai, peritel raksasa ini membutuhkan kurang lebih 350 orang pekerja. Semakin banyak gerai semakin besar tenaga kerja yang dibutuhkan. Ini tentunya dapat mengurangi angka pengangguran secara dramatis.
Tidak kalah pentingnya, keberadaan peritel raksasa membawa angin segar pada sektor UKM (Usaha Kecil Menengah). Carrefour telah membuktikan hal ini dengan merangkul pelaku pasar tradisional dan melakukan pembinaan terhadap para petani, nelayan dan peternak dalam upaya pemasokan barang-barang kebutuhan tersebut. Dalam segmen komposisi barang yang dijualpun, 70 persen diantaranya ialah barang-barang hasil UKM dan 30 persen sisanya berasal dari produksi industri besar. Ini tentu dapat mengakselerasi pertumbuhan UKM secara signifikan yang secara langsung mampu meningkatkan taraf hidup para petani, nelayan, peternak dan home industry secara dramatis. Sinergi UKM dan peritel raksasa ini dapat merubah image UKM yang sebelumnya dipandang sebelah mata menjadi “Usaha Kecil Milyaran”.
Melihat kenyataan ini, pemerintah harus dengan cermat dan bijaksana dalam mengambil langkah mengatur kebijakan serta regulasi terkait persaingan usaha ritel yang ada. Keberpihakan pada peritel raksasa harus dibatasi secara wajar mungkin. Ini bertujuan untuk memberi ruang gerak pada pelaku usaha lokal. Namun, alangkah lebih bijaksana dan arif sekiranya pemerintah ikut berpartisipasi secara aktif membantu penggenjotan pertumbuhan peritel lokal dengan memberikan stimulus kebijakan dan regulasi yang mengistimewakan “anak kandung” di negeri sendiri. Kenyataannya, sampai sekarang ini belum ada regulasi yang signifikan mengatur khusus indutri ritel mengingat sektor ini cenderung dinamis dan inovatif. Kedepan, diharapkan pemerintah dapat menjadi titik terang bagi peritel lokal sehingga mampu menjadi raja di daerah masing-masing.
Redian Fikri Guspardi
Pengurus KADIN Sumbar 2011-2016
e-mail : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it
no hp : 081267786977
Bagikan artikel ini ke rekan-rekan anda dengan menggunakkan:





