IFBC Info Franchise & Business Concept Expo 2013 Schedule
International Franchise Conference 2013
Take Over or Buy a New Franchise?Praktek franchise sudahlah tidak asing lagi bagi kaum pengusaha di Indonesia ini. Pada umumnya franchisor menawarkan paket franchisenya dalam bentuk peluang usaha yang sudah memiliki suatu format yang baku dan terpercaya. Hampir seluruh keperluan untuk memulai usaha tersebut sudah disediakan oleh sang franchisor, mulai dari peralatan, pelatihan sumber daya manusia, bahan baku, dan lain lain. Franchisee pun dibantu dalam persiapan pembukaan outletnya hampir dari semua segi. Akan tetapi, kebanyakan franchisor tidak menyediakan lokasi usaha, padahal ini adalah salah satu element yang paling penting dalam menjalankan sebuah usaha. Franchisor pada umumnya hanya men-survey dan menilai kelayakan lokasi yang diajukan oleh si franchisee. Hanya beberapa franchisor saja yang menawarkan lokasi yang sudah siap pakai ataupun memberikan opsi untuk membeli outlet atau unit usahanya yang sudah berjalan. Pada kesempatan kali ini, kita akan menilik keuntungan dan kerugian dalam membeli outlet franchisor atau mencari lokasi baru untuk outlet franchise Anda.

Membeli outlet franchisor yang sudah berjalan memiliki satu perbedaan yang sangat menonjol dibandingkan apabila kita membeli franchise dan dibuka di tempat baru, yaitu outlet tersebut sudah memiliki sejarah (track record) akan performa dan kinerjanya. Oleh sebab itu, membeli outlet franchisor sebenarnya bukan lagi membeli franchise melainkan lebih tepatnya disebut sebagai buyout atau akusisi sebuah unit usaha. Dalam sebuah akusisi, franchisor biasanya menggunakan perhitungan yang berbeda dari penjualan paket franchisenya. Ini dikarenakan outlet tersebut sudah memiliki faktor resiko yang sudah lebih jelas dibandingkan outlet baru yang belum beroperasi. Harga dari penjualan unit tersebut dapat lebih mahal maupun lebih murah dari penawaran paket franchise standarnya, tergantung dari kinerja outlet tersebut. Perhitungan yang dipakai biasanya diambil dari data penghasilan outlet tersebut dan diproyeksikan untuk beberapa tahun kedepan lalu dihitung net present value nya pada saat ini. Discount rate yang dipakai dalam perhitungan inilah dasar dari keuntungan yang ditawarkan oleh si franchisor kepada franchisee.

Sejarah performa outlet tersebut menjadi faktor penentu yang paling besar dalam menentukan harga takeover dari sebuah outlet. Semakin tinggi pemasukan outlet tersebut, semakin tinggi pula harga jual yang ditawarkan oleh si franchisor kepada franchisee. Franchisee lah yang harus menentukan apakah membeli outlet yang sudah berjalan bisa menghasilkan return yang lebih besar dibandingkan apabila ia membuka di outlet baru. Pertimbangan ini menyangkut dari penilaian qualitatif dari franchisee dengan melihat dari segi potensi lokasi, potensi pasar, harga paket franchise, harga takeover, dan lain lain.

Untuk memperjelas, marilah kita melihat sebuah contoh. Franchisor menawarkan seorang franchisee untuk men-takeover outlet A untuk lima tahun, atau membeli paket franchise baru. Katakanlah outlet A sudah berjalan selama satu tahun dengan rata-rata keuntungan bersih perbulan sebesar Rp5 juta. Dengan kata lain, apabila franchisee men-takeover outlet ini, maka ia dapat menghasilkan Rp5 juta selama 60 bulan kedepan atau keuntungan Rp300 juta dalam 5 tahun. Maka apabila franchisor menawarkan harga franchise sebesar Rp190 juta berarti ia menawarkan rate of return sebesar 20% per tahun selama lima tahun.

Katakanlah total paket investasi franchise yang ditawarkan oleh franchisor sebesar Rp150 juta, dengan kondisi Anda harus mencari lokasi sendiri dan memulai sebuah unit baru. Untuk menghasilkan rate of return yang sama (20%) dengan yang ditawarkan oleh franchisor dalam paket takeover, Anda harus dapat menghasilkan pendapatan bersih sebesar Rp3,97 juta per bulan selama 60 bulan yang akan datang. Pertanyaannya adalah lebih untung mana membeli outlet franchisee atau membuka yang baru?

Berdasarkan perhitungan diatas, Franchisee dapat mempertimbangkan dengan seksama pilihan mana yang lebih sesuai untuk dirinya. Apabila sang Franchisee memiliki keyakinan akan potensi lokasi yang baru dengan pangsa pasar yang besar, maka memulai outlet baru bisa lebih menguntungkan daripada membeli outlet yang sudah bejalan. Disinilah penilaian qualitatif sangat penting dalam menganalisa kedua peluang tersebut. Franchisee juga harus mempertimbangkan apakah outlet yang sudah berjalan tersebut mampu menghasilkan sebaik itu atau mungkin lebih baik atau sebaliknya dapat menurun. Persaingan di sekitar outlet tersebut, akses kendaraan, tempat parkir, pangsa pasar, dan lain lain bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam menilai potensi sebuah lokasi.

Mungkin Anda bertanya “mengapa outlet franchisor mau difranchisekan kepada orang lain, kalau performanya baik? Apakah outlet yang akan difranchisekan tidak menguntungkan?” Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat lazim dan mendasar dari semua takeover opportunity. Karena investor pasti ingin mengetahui alasan apa yang dimiliki Franchisor untuk melepas usaha yang baik. Sebenarnya franchisor memiliki beberapa alasan yang cukup baik untuk hal ini.

Yang pertama adalah karena mungkin outlet tersebut lokasinya terlalu jauh dari franchisor sehingga dengan adanya franchisee, maka kinerja outlet tersebut dapat dikembangkan menjadi lebih baik lagi. Dengan adanya franchisee yang lebih dapat mengawasi outletnya, maka secara langsung ketertiban dan disiplin kerja dalam outlet tersebut dapat ditingkatkan.
Dengan adanya franchisee juga sering kali dapat meningkatkan penjualan outlet tersebut karena si franchisee dapat lebih mengenalkan atau menawarkan produk dan jasanya pada teman-teman, keluarga, dan lingkungan setempat.

Yang kedua, Franchisor juga mendapat penghasilan dari penjualan franchise tersebut yang dapat digunakan untuk membangun outlet baru di lokasi yang berbeda, dan dapat ditawarkan kembali pada investor lain. Dengan cara ini, Franchisor secara tidak langsung mengembangkan franchisenya dengan sistim proaktif, sehingga mereka dapat berkembang di lokasi atau area yang diminati tanpa harus menunggu adanya franchisee yang mau membuka di lokasi tersebut. Strategi ini sangat baik bagi perkembangan jumlah outlet dan ketenaran merek dagang Franchisor.

Yang ketiga, Semakin besar sebuah merek franchise, semakin sedikit jumlah outlet yang dimiliki sendiri. Ini disebabkan Franchisor harus lebih fokus pada pelayanan dan tunjangan (support) untuk franchisee-franchisee nya, maka jumlah outlet sendiri dan perhatian pada operasional outletnya pun dikurangi dan ditransfer kepada franchisee. Pada akhirnya franchisor lebih berperan sebagai supporter, distributor, dan pengembang mereknya secara nasional atau internasional. Oleh sebab itu, takeover opportunity yang ditawarkan oleh franchisor belum tentu merupakan outlet yang tidak baik, melainkan franchisor memiliki beberapa alasan strategis untuk melepaskan outletnya kepada franchisee.

Bagikan artikel ini ke rekan-rekan anda dengan menggunakkan:

PLASA FRANCHISE

Promo Majalah Info Franchise