Arthur Andersen, seorang akuntan publik asal Amerika dalam penelitiannya menyebutkan, degree of success (tingkat keberhasilan) usaha waralaba mencapai 91%. Sedangkan non waralaba hanya 34%. Itu terjadi di Amerika, dimana usaha waralaba di negeri Paman Sam sudah berkembang sejak abad ke-19. Bagaimana dengan Indonesia? Belum ada data akurat seperti yang dilakukan Athur Anderson untuk bisnis waralaba di tanah air.
Di Indonesia, waralaba baru berkembang sejak tahun 1990. Hal itu mengacu kepada perhatian Departemen Pedagangan terhadap pola waralaba yang dimulai sejak tahun itu. Memang, data menyebutkan, sebelum tahun itu sudah ada sejumlah perusahaan franchise yang mengembangkan usahanya di Indonesia. Tetapi, perhatian pemerintah baru dimulai sejak tahun 1990.
Terlepas belum adanya data akurat mengenai degree of success, bisnis dengan pola waralaba menunjukkan gairah yang menggembirakan. Salah satu industri yang memberikan peluang besar bagi bisnis dengan pola waralaba adalah kafe dan restoran. Di Amerika, Amir Karamoy, degree of success bisnis kafé dan resto yang menggunakan pola waralaba sangat tinggi. Di Indonesia, tingkat keberhasilan usaha ini pun dinilai cukup menjanjikan mengingat permintaan pasar sangat tinggi.
Tetapi, kata Karamoy, keberhasilan usaha kafe dan resto yang menggunakan pola waralaba sangat tergantung kepada persiapan masing-masing franchisor. “Bagi saya, selalu ada dalih bahwa tidak ada franchisee yang sukses tanpa franchisor yang sukses,” katanya.
Karena itu, menurut Karamoy, pengusaha kafe dan resto yang ingin mengembangkan usahanya menggunakan pola waralaba perlu melakukan berbagai tahapan dan persiapan yang matang agar usahanya bisa berkembang menggunakan jaringan waralaba.
Sejumlah faktor penting
Faktor yang paling penting, menurut Karamoy, adalah kesiapan dari organisasi usaha, baik dari sisi manajemen, tenaga kerja dan permodalannya. “Ini adalah faktor yang paling penting dipersiapkan oleh perusahaan yang ingin memfranchisekan usahanya,” tandasnya.Selain itu, perusahaan harus mempunyai konsep yang unik dari kafe dan resto yang ingin dikembangkannya. Keunikan ini bisa dicirikan dari produk atau atribut lain dari perusahaan tersebut seperti service (layanan) serta outlet-nya.
Akan tetapi, langklah paling awal yang harus dilakukan bagi peminat yang ingin memfranchisekan usaha kafe dan resto adalah melakukan semacam visibility study atau studi kelayakan. Tujuannya untuk mengetahui apakah usahanya itu layak difranchisekan atau tidak. Karamoy menyarankan, sebaiknya studi kelayakan usaha dilakukan bersama lembaga konsultan sehingga bisa lebih objektif. Paling tidak, perusahaan yang bersangkutan meminta penilaian (second opinion) dari konsultan.
Selanjutnya, ketika usaha itu dijalankan, perusahaan membuat sistem operasi yang bisa dilaksanakan (implamentable). Sistem yang implamentable sangat penting karena nantinya akan dijadikan pedoman atau acuan dalam mengoperasikan usaha oleh franchisee. Jika sistemnya tidak jelas, meskipun itu dibuat oleh konsultan kawakan, tidak akan ada gunanya. Sistem itu harus diujicobakan dulu untuk mengetahui bahwa sistem itu benar-benar bisa diterapkan kepada semua franchisee. “Oleh karena itu, sistemnya harus sesuatu yang bisa dilaksanakan. Dan harus dilakukan dengan proses uji coba,” katanya.
Lainnya, perusahaan yang berniat mengembangkan usahanya dengan pola waralaba harus mempersiapkan lembaga training dan sistem training yang akan diberikan. Hal ini menjadi penting karena tidak semua franchisee mengerti cara pengoperasikan usaha dan juga berpengalaman di bidang yang sama.
Karamoy juga menandaskan, franchisor tidak bisa tidak harus menyediakan petunjuk manual yang akan menjadi panduan bagi franchisee. Petunjuk manual ini menjadi semacam standard operation procedure (SOP) supaya produksi dan servis menjadi standar, mulai dari bahan baku hingga ke produk final. “Jadi, pentingnya petunjuk manual itu supaya produksi dan servis menjadi standar,” katanya.
Menyangkut budget yang pertama kali harus disediakan, menurut Karamoy, adalah biaya-biaya untuk melakukan studi kelayakan usaha. Diperkirakan, biaya yang diperlukan untuk itu berkisar antara Rp 60 juta hingga Rp 200 juta.
Paham Bisnis
Sementara itu, pengamat franchise, Pietra Sarosa menjelaskan, sebelum memfranchisekan usaha kafe atau resto, franchisor harus memperhatikan beberapa hal. - Pertama, dia (franchisor) paham betul tentang lika liku bisnis tersebut, termasuk kendala dan cara mengatasinya. Sehingga nantinya memudahkan franchisor dalam memberikan bimbingan bisnis kepada para mitranya.
- Kedua, franchisor harus tahu bahwa menu yang disediakan bisa diterima secara luas sehingga jika diwaralabakan tidak akan membatasi ruang lingkup ekspansi nantinya.
- Ketiga, harus dipastikan bahwa proses produksi menu memungkinkan untuk menjangkau daerah-daerah dimana nantinya akan tersebar jaringan franchise.
- Keempat, harus dipastikan juga, franchisor punya proteksi alamiah untuk melindungi supaya menu dan sistem operasi tidak bisa dijiplak oleh franchisee yang nakal.
Jika franchisor menawarkan sesuatu yang belum teruji, tambah Pietra, berarti telah menipu dan menyesatkan terwaralabanya. “Memang tidak ada patokan pasti mengenai lamanya keterujian ini, bisa saja kita pakai
patokan minimal 1-2 tahun operasi outlet-nya berjalan dengan baik. Dan yang terpenting adalah sudah siap dengan sistem franchise yang kuat,” katanya seraya menambahkan, biasanya mengenai keterujian ini diterapkan yang namanya franchisability analysis sebelum usaha itu difranchisekan.
Yang jelas, tutur Pietra, pengusaha yang meniatkan usahanya untuk difranchisekan harus mempersiapkan sejumlah budget untuk menyusun segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem franchise. Pekerjaan menyusun sistem franchise ini dimulai dari studi kelayakan waralaba (franchisability), penentuan "paket franchise" yang menarik, mempersiapkan struktur SDM untuk departemen atau tim khusus yang akan mengembangkan franchise, pendokumentasian sistem operasi dalam bentuk SOP, hingga penyiapan kontrak kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak.
Diakui Pietra, pekerjaan tersebut cukup merepotkan dan membutuhkan biaya awal. Tapi, katanya, yang harus diingat adalah bahwa usaha ini investasi jangka panjang. “Dengan sistem yang kuat, franchise Anda akan berumur panjang dan mampu bersaing. Dalam hal pengerjaannya, Anda bisa menyiapkannya sendiri atau menyewa konsultan franchise,” katanya.
Bagikan artikel ini ke rekan-rekan anda dengan menggunakkan:





