Membeli franchise luar negeri tidak sulit. Tetapi berbagai halangan bisa membentang sehingga bisa saja tidak berhasil. Bagaimana agar bisa sukses membawa franchise luar negeri?Sandy, sebut saja begitu, harus gigit jari memburu franchise luar negeri. Dua tahun waktu yang dihabiskan untuk bisa mendapatkan bisnis yang diburunya itu, tetapi harus puas dengan kegagalan. Semua persyaratan sudah dicoba penuhi oleh Sandy. Sayang, merek yang diperkirakan akan berhasil di Indonesia itu gagal dibawanya.
Bagi Sandy, bisnis franchise sudah menjadi tekadnya untuk menjadi enterpreneur sejati. Gagal membawa bisnis itu ke Indonesia, Sandy akhirnya melakukan serangkaian studi untuk mendirikan sendiri bisnis franchise. Sebuah resto kemudian dia create. Hasilnya, resto itu pun sukses dan menjadi salah satu merek bisnis paling berpengaruh di jajaran bisnis franchise di Indonesia.
Meski bisnis resto franchise ini sukses, Sandy tidak patah arang untuk tetap memburu bisnis lain di industri franchise. Dia pun kemudian dapat menerima hak waralaba dari salah satu bisnis franchise luar negeri. Boleh jadi, untuk perburuan yang kedua ini, franchisor melihat Sandy sudah punya pengalaman di bisnis franchise. Sehingga, Sandy lebih dipercaya.
Namun, pengalaman pertama Sandy tidak berlaku pada semua peminat bisnis franchise di Indonesia. Sebagian menghadapi berbagai rintangan. Sebagain lain mengaku tidak terlalu sulit. (Lihat lika liku memburu franchise luar negeri).
Relatif
Pengamat franchise dari FT Consulting, Utomo Njoto mengungkapkan, kesulitan memburu bisnis franchise luar negeri sangat relatif. Hal itu sangat tergantung kepada franchisornya. Adakalanya, franchisor sangat ketat dalam menyeleksi calon franchisee. Ada juga yang tidak terlalu ketat. Para franchisor luar negeri, kata Utomo, kadangkala tidak sekadar melihat ketebalan isi dompet atau ketersediaan dana. Mereka menilai pula hingga ke kompetensi, karakter dan berbagai aspek lainnya. Bahkan, ada franchisor yang sudah punya daftar negara yang diprioritaskan. Sehingga kalau ada peminat dri Indonesia, belum masuk daftar prioritas. Atau karena enqyiry dari peminat tidak bisa diproses secara cepat. Bagi peminat hal itu dirasa sulit.
Menurut Utomo, prinsipnya memburu franchise baik dalam negeri maupun luar negeri sama saja. Tergantung franchisornya. "Dalam negeri maupun luar negeri sama saja. Ada yang ketat, ada yang longgar," katanya.
Pengamat franchise dari The Bridge Franchise Consultan, Lanny Kwandy juga mengatakan, sebenarnya untuk membeli usaha franchise internasional tidak sulit. Faktor yang bisa memuluskan usaha memburu usaha franchise tergantung kepada koneksi dan latar belakang prospek franchise yang akan dievaluasi oleh franchisor.
Hal yang sulit, kata Lanny, sebenarnya terletak pada upaya memilih usaha franchise internasional yang tepat untuk pasar Indonesia. Alasannya, karena tidak semua franchise luar negeri yang sudah terkenal bisa langsung diterima oleh pasar nasional. Contohnya, Burger King dan Subway. Dua merek ini sangat terkenal di negeri asalnya, tetapi tidak bisa berkembang di Indonesia.
Lanny mengakui, franchisor luar negeri lebih selektif dalam memilih prospek master franchise karena tanggung jawab master franchise sangat luas dan dibutuhkan manajemen, marketing dan kemampuan leadership yang tinggi. Dengan kata lain, master franchise harus bisa menjalankan sebagian tanggung jawab franchisor untuk men-sub-franchisekan usaha itu.
Sedangkan untuk membeli franchise lokal lebih mudah karena faktor jarak yang lebih dekat dan training bisa dilakukan lebih mudah dibandingkan franchisor luar negeri.
Tidak ada Jaminan
Faktor yang dianggap menjadi kesulitan bagi calon franchisee membeli franchise luar negeri, karena pada umumnya, franchisor luar negeri meminta peminat untuk melengkapi proposalnya dengan market survey. Di sisi ini, banyak calon franchise yang enggan melakukannya. Sebab, tidak ada jaminan dari franchisor untuk memberikan hak waralaba meski calon franchisee atau master franchise sudah memenuhi market survey.
Tetapi, tidak semua franchisor memperlakukan hal yang sama. Baik yang dalam negeri maupun luar negeri, ada juga yang "gampangan". Justru, Utomo menyarankan agar calon franchisee lebih jeli, karena yang "gampangan" itu bisa saja supportnya tidak bagus.
Calon franchisee atau calon master franchise diharuskan untuk melihat secara detil kelayakan bisnis yang akan dipilihnya. Kelayakan bisnis bisa dilihat dari kelengkapan pedoman operasional dan pelatihan, perlindungan merek, kredibilitas dan reputasi franchisornya. Bahkan, calon franchisee diharuskan untuk mengunjungi model outlet serta menongkronginya beberapa jam atau beberapa hari.
Merek, bisa juga menjadi pertimbangan sebelum menjatuhkan pilihan. Merek yang prospektif, tentu saja yang sudah dikenal dan disukai masyarakat. Hanya saja, sebuah merek yang sudah dikenal di kota tertentu belum tentu dikenal di kota lainnya. Menurut Utomo, kepiawaian penerima hak waralaba dalam melakukan kegiatan promosi lanjutan (pasca lounching) sangat menentukan keberhasilan merek.
Faktor lainnya yang harus diperhatikan oleh calon franchisee adalah menyangkut produk. Produk harus sesuai dengan selera pasar di lokasi yang mau digarap, tidak hanya populer dan sesuai di pasar asal negara atau tempat produk itu berasal. Kasus ini bisa dipelajari dari merek Subway. Di Amerika, merek ini memiliki superioritas yang sangat tinggi dibandingkan McD. Tetapi, di Indonesia, produk dari Subway tidak bisa berkembang. Justru McD yang berkembang.
Sementara itu, Lanny menyarankan, sebaiknya calon franchisee jangan membeli sebuah usaha franchise karena produk atau merek tersebut sedang tren. Calon penerima hak waralaba harus bisa mengetahui kecenderungan pasar di Indonesia, apakah produk tersebut dibutuhkan. Perlu juga, kata Lanny, untuk mengukur apakah produk atau service yang ditawarkan bisa bertahan minimal 5 tahun.
Zaziri dan Majid
Bagikan artikel ini ke rekan-rekan anda dengan menggunakkan:





