Dua RocketKeduanya sama-sama menjual menu ayam goreng ala Amerika atau fried chicken. Kinerja bisnis keduanya sama-sama melesat. Tapi jangan salah, kedua Roket ini ternyata berbeda. Pemiliknya pun berbeda. Tidak ada hubungan antara keduanya.

Roket yang satu, memulai perjalanan bisnisnya dari kawasan Kota Kembang, Bandung. Pada 2009, wanita Bandung bernama Rebecca Ayu Indyani mulai membesut merek ayam goreng Rocket Chicken. Selain Rocket Chicken, Rebecca juga memiliki beberapa unit bisnis lain dibawah jaringan bisnis Rocket Corporation yang mulai dikembangkannya pada 2008.

Nama Rocket Chicken dipakai Rebecca sejak dirinya mengawali usaha ayam goreng ini. Ia mengaku tertarik dengan nama Roket karena memiliki visi bahwa roket merupakan sebuah gagasan yang visioner, eksplosif, juga cepat melesat. “Saya melihat filosofi roket ini sesuai dengan filosofi pribadi saya,” tandasnya.

Sampai dengan pertengahan 2010, dua outlet Rocket Chicken milik Rebecca telah berdiri di Bandung dan Jakarta. Ia lantas terpikir untuk mengembangkan bisnisnya ke area yang lebih luas. Jawa Tengah dilirik sebagai sasaran penetrasi bisnisnya. Tapi pada Juni 2010, ia mendapati ternyata ada pemain fried chicken lain di Jawa Tengah yang menggunakan nama Rocket Chicken.

“Saya mengetahui ada Rocket Chicken lain lewat internet pada Juni 2010. Dari situ, pemilik Rocket Chicken itu menghubungi saya by phone dan mengajak berdiskusi. Saya sempat berpikir untuk mempertahankan merek ini karena merasa lebih awal berdiri. Tapi kemudian, berdasarkan masukan dari teman-teman yang survey, serta pertimbangan-pertimbangan lainnya, saya lebih memilih nama lain,” papar Rebecca. Akhirnya di bulan November 2010, Rocket Chicken versi Rebecca masuk ke Jateng menggunakan nama RFC.

Dia mengaku pernah mendaftarkan mereknya dengan nama SkyRocket Chicken (SRC). Pendaftaran tersebut kemudian ditarik. Badan hukumnya juga digugurkan. “Saya selalu daftarkan sejak awal setiap membuat brand company,” tegasnya. Pembubaran SRC dilakukannya sejak 2009, sedangkan pembubaran CV-nya baru bulan kemarin. Awalnya ia menggunakan CV Mulia Sarana Cipta. Sekarang CV Roketama Fantasi Ceria.

Di Semarang, 21 Februari 2010, Nuruk Atik memulai kiprahnya sebagai seorang pengusaha mandiri. Pria yang bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia ayam goreng berjaket ini mengibarkan bendera Rocket Chicken sebagai merek bisnis ayam gorengnya. Saat ini, Nurul sukses membiakkan outletnya hingga 113 store. Dia memulai segalanya dari bawah, dari seorang cleaning service di restoran qsr (quick service restaurant) ternama. Pelan-pelan, Nurul Atik meramu dan ‘meluncurkan’ Rocket-nya hingga memiliki ratusan store. Nurul memilih Kota Pelajar, Yogyakarta, sebagai markas Rocket Chickennya.

“Saya pernah dapat masukan, feng shui nama Rocket kurang bagus. Namun, dari huruf R dan O-nya sudah mewadahi hal itu,” kata Nurul Atik. Dia menyampaikan, sempat berniat untuk menggunakan merek Royal Chicken. Tapi belum sempat berdiri Royal Chicken berdiri, ia lebih memilih menggunakan Rocket Chicken. “Yang membuat saya tertarik menggunakan nama Rocket karena mudah diingat,” ungkapnya.

Bersamaan dengan berdirinya Rocket Chicken di Semarang, Nurul langsung mencari informasi mengenai nama Rocket di lembaga yang mengurus Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Informasi yang didapatnya kala itu, nama Rocket Chicken masih kosong atau belum ada yang mendaftarkan. Bahkan ketika itu, staf Nurul yang di Semarang dan Surabaya tidak bisa mendaftarkan nama Rocket Chicken karena sudah didaftarkan atas nama Nurul Atik.

Sama seperti Rebecca, Nurul juga mengaku mengetahui pertama kali ada merek Rocket Chicken lain dari internet. “Saya melihat di internet ada nama Rocket lain di Bandung. Saya kemudian menghubungi pihak Rocket Chicken yang di Bandung dan mengajak bertemu untuk menyelesaikan secara baik,” ujarnya. Ia bahkan sempat melayangkan surat somasi lewat pengacaranya. “Setahu saya, dia sempat menggunakan nama SkyRocket Chicken. Kemudian SkyRocket Chicken sudah tidak muncul, yang muncul RFC,” tutur Nurul.

Saat ini, Nurul tengah menanti terbitnya hak penggunaan merek Rocket Chicken atas nama dirinya. Menurutnya, hak itu akan keluar sekitar bulan ini atau bulan depan. Ia sudah mengurus aspek legal untuk merek bisnisnya tersebut selama 1,8 tahun. Waktu mendaftar, Nurul memang sudah diinformasikan, pengurusan seperti itu memakan waktu maksimal antara 1,5 tahun sampai 2 tahun.

“Prinsip saya, kita bersama-sama cari rejeki. Kalaupun dianggap berkompetisi, kita berkompetisi secara sehat. Apalagi kita sama-sama pemain lokal. Tujuan saya baik, kalau memang saya yang mendaftar lebih belakangan, saya siap mundur (mengganti merek). Saya berharap semua masalah bisa selesai dengan baik. Saya mau bersaudara, bukan sekedar berteman,” kata Nurul.

Hal yang sama kurang lebih sama disampaikan Rebecca. “Saya tidak menganggap pemain lain, terutama yang lokal, dalam bidang ini sebagai kompetitor. Kita bersama-sama membawa nama Indonesia dalam bisnis ini,” tegasnya. Saat ini, Rebecca sudah melaju dengan merek RFC-nya. Sedangkan Nurul, tetap menggunakan Rocket Chicken dan tidak mempersoalkan nama RFC sebagai pengganti Rocket Chicken Bandung.


Potensi Membingungkan

Peristiwa sama merek tersebut jelas merugikan bagi kedua belah pihak, baik Rebecca maupun Nurul. Pasalnya, peristiwa tersebut berpotensi besar menimbulkan kebingungan bagi calon mitra. Sedangkan untuk end user atau customer, tidak terlalu menjadi masalah. Karena bagi mereka, yang utama tetap kualitas rasa, pelayanan, kebersihan. Peristiwa sama merek ini memang bukan barang baru. Bahkan tidak jarang, urusannya sampai ke meja hijau yang tentu saja akan menguras waktu, tenaga, dan pikiran.

Terkait dengan peristiwa dua roket ini, pengamat franchise dari Francorp, Widia Dharmadi, mengingatkan agar pelaku usaha franchise segera mengurus aspek legal terkait dengan bisnisnya sejak awal. 6 kriteria usaha waralaba menurut PP No. 42 Tahun 2007 harus diikuti. “Tapi di kita, orang lebih suka jalan dulu baru mengurus aspek legalnya,” ujarnya.

Sedangkan untuk menghindari salah pilih franchise, lanjut Widia Dharmadi, calon franchisee juga harus mau repot melakukan investigasi mendalam terhadap merek franchise yang akan dipilihnya. Informasi bisa didapat dari mana saja, bisa dari asosiasi, media massa, hingga bertanya pada kompetitor dari merek yang akan dipilihnya. Calon franchisee harus lebih bijak dalam melakukan verifikasi faktual atau langsung ke lapangan. Rasakan produknya, tanyakan sistemnya, simak presentasinya dengan cermat, periksa kelengkapan aspek legal. Jangan hanya sekedar mendengar, langsung menentukan pilihan.


Ade Ahyad

Bagikan artikel ini ke rekan-rekan anda dengan menggunakkan:

PLASA FRANCHISE

Promo Majalah Info Franchise