PusdiklatMemberikan pelatihan cuma-cuma terhadap pelaku BO agar naik kelas menjadi franchisor berkelas

Perhatian pemerintah khususnya Direktorat Bina Usaha dan Pendaftaran Perusahaan Kementerian Perdagangan terhadap industri franchise semakin serius. Melalui Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat Perdagangan) Direktorat Bina Usaha dan Pendaftaran Perusahaan menyeleksi beberapa calon franchisor yang berasal dari business opportunity untuk diberikan pelatihan secara cuma-cuma. Tujuannya agar para pelaku usaha yang baru menapaki business opportunity bisa naik kelas menjadi franchisor yang berkualitas baik. Sehingga nantinya memiliki daya saing kuat dengan merek franchise asing yang semakin berkembang di Indonesia.

Rahayubudi, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Perdagangan mengatakan, salah satu program pemerintah adalah mencetak pengusaha lokal agar lebih tumbuh lagi. Salah satunya adalah dengan memberikan pelatihan gratis kepada para pengusaha kecil, agar bisnisnya jadi lebih baik dan tersistem. “Karena kita melihat potensi pengusaha lokal untuk menjadi franchise unggulan cukup banyak,” katanya.

Adapun para peserta yang dipilih Direktorat Bina Usaha dan Pendaftaran Perusahaan adalah para pengusaha yang tergolong baru memiliki business opportunity yang memang layak diberikan pelatihan. “Direktoran Bina Usaha memang cukup selektif memilih para peserta disini. Tidak asal pilih. Minimal usahanya sudah jalan 2 atau 3 tahun dan sudah memiliki paling sedikit 5 gerai,” ujar Rahayubudi.

Dijelaskan Rahayubudi, ini merupakan kedua kalinya Pusdiklat Perdagangan menyelenggarakan pelatihan. Sebelumnya program ini juag pernah diadakan pada 2009 lalu. Untuk kali ini pesertanya sama dengan yang lalu yaitu dibatasi  hanya berjumlah 25 orang saja. Para peserta yang ikut diwajibkan adalah para owner atau minimal seorang manager yang memang punya decission maker dalam menjalankan usaha ini, bukan karyawan atau manager biasa. “Karena program ini kan akan kita monitor terus, sudah seperti apa pengaruhnya pada kinerja bisnisnya. Supaya kedepannya kita lihat sudah sejuah mana perkembangannya, dan butuh apa lagi untuk kita bantu,” katanya.

Kedepannya, lanjut Rahayu, para peserta ini diharapkan bisa mengembangkan bisnisnya ke arah franchise. Sehingga ketika dia mau mengembangkan sistemnya tidak dari nol lagi. Paling tidak, sudah memahami cara-cara mengembangkan usaha dengan pola franchise. “Selanjutnya tinggal mematangkan konsep saja. Mau pakai jasa konsultan atau apa lagi,” terangnya.

RahayubudiPelatihan ini bekerjasama dengan Asosasi Franchise Indonesia, dan beberapa konsultan franchise untuk mengisi beberapa materi bisnis franchise seperti Utomo Njoto dari FT Consulting, Bambang Pram Said dari Bambang Pram Said, konsultan hukum franchise, dan Bije Widjajanto dari Benwarg Consulting serta Adrianus Widjaja, dari The Bridge.

Acara ini berlangsung hingga 5 hari, mulai 8 Maret hingga 12 Maret 2010 bertempat Sawangan Depok, Cinangka. Tempat tersebut memang sangat representatif sebagai pusat pelatihan. Selain gedungnya yang cukup bagus. Berbagai sarana penunjang juga cukup lengkap. Mulai dari ruang latihan, perpustakaan, hingga kamar menginap para peserta yang bertaraf hotel bintang tiga.

Menurut Rahayu, para peserta yang ikut pelatihan ini sama sekali tidak dikenakan biaya sepeserpun. “Ini sudah dari anggaran belanja negara. Para peserta tinggal mengikuti latihan saja. Semua fasilitas gratis,” tuturnya.

Untuk saat ini pelatihan ini masih diadakan untuk Depok. Kedepannya jika memang cukuf program ini cukup efektif, kata Rahayu, Pusdiklat Perdagangan  akan mengadakan road show juga di daerah-daerah. “Kita lihat dahulu potensi business opportunity  di dearah-daerah. Mungkin yang akan menjadi rencana kita daerah seperti Bandung, Jogja, dan Surabaya yang memang banyak franchise lahir dari dearah sana,” ujar Rahayu.

Zaziri

Bagikan artikel ini ke rekan-rekan anda dengan menggunakkan:

PLASA FRANCHISE

Promo Majalah Info Franchise