Tidak banyak usaha pisang goreng yang melampaui tahun ketiga. Bisnis jenis ini umumnya hanya mampu mempertahankan eksistensinya untuk beberapa tahun aja setelah booming untuk beberapa saat. Namun Pisangku Pisang Goreng Pasir tetap bertahan menapaki tahun kelima. Apa rahasia suksesnya?

Sejak didirikan pada awal 2006 lalu, di Bilangan Jl RC Veteran, Bintaro, Pisangku Pisang Goreng Pasir tetap kokoh mempertahankan eksistensi bisnisnya. Gerai pertamanya di Bintaro sampai kini tetap ramai dikunjungi pelanggan setianya. Hampir setiap saat, pengendara yang berlalu lalang di gerai Pisangku, baik roda dua maupun roda empat selalu menyempatkan diri untuk memesan Pisangku, untuk kemudian melanjutkan perjalanannya kembali. Fenomena itu hingga saat ini masih terus berlangsung.

Hal itu sangat kontras dengan para pesaing lainnya yang juga menjajakan pisang goreng. Pertamakali Pisangku beroperasi, sekitar 6 kedai pisang goreng mengerumuni ruas jalan itu, namun usia mereka tidak bertahan lama. Satu persatu mereka berguguran, hingga tinggal satu gerai yang masih bertengger memanjakan lidah pengemarnya, yaitu Pisangku Pisang Goreng Pasir.

Lalu apa sih kelebihan Pisangku yang tidak pernah pudar daya tariknya, menggoyang lidah cutsomernya? Jawabannya tidak lain karena Pisangku konsisten menyajikan originalitas rasanya yang renyah dan manis, serta otentik.

Menurut Wildan, Owener Pisangku Pisang Goreng Pasir, Pisangku sejak pertama didirikan hingga saat ini tidak pernah mengembangkan variasi rasa lain selain pisang goreng pasir. “Pernah dahulu saya ingin meluncurkan varian rasa baru seperti pisang keju dan pisang ice cream. Namun semua itu saya urungkan, karena takut harganya mahal dan tidak unik. Maka, saya tetap pajang fotonya saja, tapi tidak saya jual produknya. Saya cuma kasih saran jika ingin merasakan sensasi rasa lain bisa dibuat tambahan toping seperti gambar itu,” ujarnya.

Wildan menceritakan awal mula dirinya tertarik mendirikan usaha pisang goreng. Ketika pada tahun 2005,  Ia melihat pisang goreng dengan merek Pisang Pontia sangat ramai diantri customer-nya. “Waktu itu saya melihat luar biasa animo masyarakat terhadap pisang gorang Pontia. Pikiran saya pun tegelitik untuk mendirikan usaha pisang goreng,” tutur pria yang pernah dagang asongan ini.

Namun demikian, dirinya tidak lantas menjadi seorang yang ikut-ikutan arus. Meskipun semangatnya sama, memiliki usaha pisang goreng, tapi dia ingin menampilkan pisang goreng yang berbeda. Sampai akhirnya, pada suatu ketika, saat dirinya menyantap Kicthen Katsu di Hoka-Hoka Bento, tiba-tiba terbesitlah dalam benaknya untuk menjajakan pisang goreng. Seketika itu juga ide cerdasnya langsung meloncat. “Kenapa tidak diisi pisang saja isinya, tidak harus daging,” cetusnya.

Sejurus kemudian, dengan semangat yang menggebu, Ia pun langsung membuat adonan pisang dan menggorengnya. Namun demikian, Wildan bukanlah seorang pengusaha karbitan yang langsung terburu nafsu menjual idenya yang masih berupa trial and error. Setelah menemukan rasa dan kulit pisang goreng yang tipis seperti Katsu, Ia bagikan hasil kreasinya kepada teman sejawatnya untuk dicicipi dahulu. Setelah semua mengatakan enak, baru diluncurkan ke pasar. “Yang paling susah waktu itu membuat kulit goreng pisang yang tipis dan renyah, namun tidak berminyak,” ungkapnya.

Alhasil, katanya, setelah menemukan teknologi penggorengan dan cara memasak yang tepat, Ia pun dapat membuat pisang goreng yang pas sesuai ekspektasinya. Karena bentuk pisangnya seperti katsu yang mirip yang menyerupai pasir pada permukaan kulitnya. Para customernya pun sering menyebut pisang pasir. Maka, Pisangku kemudian ditambahkan namanya menjadi Pisang Goreng Pasir. “Nama itupun kemudian saya patenkan,” ujar Wildan.

Hingga kini, Pisangku sudah memiliki 15 gerai tersebar di Jl  RC Veteran Bintaro, Jl Alternatif Cibubur, Jl. Raya Serpong-Tangerang, Fatmawati, Bekasi, Jl Antarsari, Jl. M Kahfi- Jakarta Selatan, Cirendeu, Jl. Joglo Rayaku, Jl. Rakya Jatiwaringin, Jl. TB imatupang, Jl. Margnda Raya, Cisarua Puncak, dll.

Dikatakan Wildan, Pisangku bisa bertahan sampai saat ini karena tidak ingin meniru para pendahulunya yang juga pernah sukses mengembangkan usaha pisang goreng. Yaitu terlalu bernafsu berinovasi dan tidak pandai menjaga loyalitas customer-nya. “Para pendahulu saya terdahulu sangat pandai membuat antrian panjang dengan membuat demo masak pisang goreng. Namun, mereka tidak pandai menjaga loyalitas customer-nya,” kata ayah empat anak ini.

Padahal, ujar Wildan, customer itu tidak bodoh, dan mereka kritis-kritis. Jangan bangga kalau customer hanya datang. Namun, bagaimana caranya dia bisa datang kembali ke tempat kita. Karena itu yang paling penting. “Oleh sebab itu, saya sering menanyakan kepada para customer apa kekurangan kita, selama dia menyukai produk kita, tidak ada yang kita rubah. Selain itu, yang mesti dijaga adalah kebersihan dan kenyamanan para customer,” ujar pemilik binis otomotif ini.

Sebab, lanjutnya, makanan yang kita buat ini akan masuk ke perut customer. “Jika ada customer yang malihat karyawan saya tidak bersih, dan menggoreng sambil merokok, maka dia juga akan jijik,” tegasnya. Kemudian, yang ketiga, adalah menjaga citra rasa agar jangan sampai berubah. Wildan bercerita, pernah suatu saat dirinya kehabisan pisang gepok, sementara customer yang mengantri masih banyak.

Akhirnya, Ia pun pernah mengganti pisang gepok dengan pisang tanduk. “Padahal pisang tanduk kan mahal, tapi rasanya berbeda. Pada hari itu banyak customer-nya yang protes kok rasanya beda. Dari situ ia kemudian punya prinsip, jika stok pisang gepok habis, maka tutup saja gerainya, jangan dioplos dengan pisang lain,” kenangnya.

Pengalaman lain, yang membuat standar Pisangku berubah adalah cabang franchisenya di bilangan Fatmawati. Pernah, pada dua tahun lalu, seorang teman Wildan membeli franchise Pisangku dengan harga yang cukup mahal yaitu sebesar Rp 375 juta. “Karena saya tidak ingin kreasi saya itu cuma untuk main-main,” tuturnya. Karena usaha itu sudah balik modal, maka sang mitra franchise pun kemudian tidak sungguh-sungguh menjalankan usahanya. Rasa Pisangku tidak standar dengan cabang lain, banyak customernya yang komplein.

Sebagai pemilik merek, Wildanpun tidak ingin usaha yang dirintisnya rusak. “Akhirnya, saya beli lagi usaha itu,” katanya. Sampai saat ini semua gerai masih milik sendiri, tidak ada yang difranchisekan. Akan tetapi, dalam waktu dekat ini, Pisangku akan membuka kembali sistem kemitraan.

Namun demikian, bukan dengan modal yang besar dan franchise murni. Tetapi, bagi hasil dengan menjual produk Pisangku melalui booth dan sepeda motor dengan desain yang sangat atraktif. “Saya sudah lama mempersiapkan desain ini. Yang bisa dipajang secara transparan melalau kaca dan stenlis, tapi hygenis dan berkelas kelihatannya,” katanya. Walaupun begitu, produk yang dijual lebih kecil size-nya dan tidak mahal. “Biasanya harga satu buah Pisangku Rp 2500 per piece, tapi nanti cuma Rp 1000, dengan invetasi di bawah Rp 50 juta,” ujar Wildan.

Zaziri

Bagikan artikel ini ke rekan-rekan anda dengan menggunakkan:

PLASA FRANCHISE

Promo Majalah Info Franchise