The Most Innovative Brand 2018

Dalam bisnis, inovasi sangat penting agar tetap eksis di tengah persaingan yang sangat kompetitif. Tanpa inovasi, sebuah merek bisnis mustahil mampu menjelajahi gelobang pasar yang kian hari kian riuh dengan pemain baru. Tanpa konsep dan produk yang inovatif, suatu bisnis diyakini sulit menembus pasar yang konsumennya kini semakin rewel dan menuntut. 

Inovasi di dalam bisnis bertujuan agar perusahaan bisa berjalan dengan Langgeng. Dengan melakukan inovasi, kata kata Burang Riyadi, Konsultan Franchise dari IFBM, diharapkan para pelanggan tidak bosan belanja dan semakin suka dengan usaha atau produk dan jasa yang dijual. Dengan melakukan inovasi juga akan menarik pelanggan-pelanggan baru atau bahkan memperbesar pangsa pasar.

Jadi, kata Burang, tujuan melakukan inovasi adalah untuk membuat usaha kita tetap langgeng dan tahan lama. Menurutnya, Inovasi bisa dilakukan dalam berbagai bentuk. “Tetapi saya membaginya dalam dua katagori, yaitu: inovasi dalam produk/ jasa, dan inovasi pada Business Model-nya,” katanya.

Inovasi pada produk atau jasa, misalnya, kata Burang, dikembangkan menu-menu baru, atau barang baru untuk dijual, atau jasa-jasa baru (pada usaha jasa). Sedangkan inovasi pada business model adalah mengembangkan konsep usahanya, misalnya ditambahkan Cafe pada usaha ritelnya. Atau ditambahkan cara penjualan digital pada usahanya. Atau dibuat desain outlet dan cara pelayanan baru.

Djoko Kurniawan, Pengamat Franchise & Service Qualiy dari DK Consulting Group mengtakan, inovasi harus dilakukan di semua lini. Inovasi bisa dilakukan pada produk dan pelayanan. Inovasi produk bisa dari sisi bentuk, kemasan, rasa, varian, dan lain-lain. Sedangkan inovasi pelayanan bisa dalam bentuk tindakan atau tahapan bisnis yang memuaskan customer.

Selain itu, kata dia, inovasi juga harus dilakukan di bidang pemasaran/ marketing. “Inovasi di bidang marketing misalnya dengan membuat brand activation yang bisa menarik customer baru atau membuat iklan yang unik agar mudah diingat oleh target market,” katanya.

Bisnis yang inovatif, kata Djoko, dapat dilihat dari produk atau pelayanannya  yang bisa dengan mudah diingat di benak customer. Sebuah produk atau pelayanan biasanya akan mudah menjadi top of mind di benak customer jika punya inovasi dan kreatif.

Sebuat merek, lanjur dia, dikatakan inovatif jika target market mudah mengenali ciri-ciri produk atau pelayanannya secara cepat dan tepat. Merek baru yang inovatif juga cenderung dibicarakan oleh banyak orang dan menjadi topik menarik di banyak social media. “Merek waralaba baru yang inovatif juga cenderung dicari investor karena terlihat sangat menarik,” jelasnya.

Djoko menuturkan, waralaba yang sukses biasanya memang cenderung lebih inovatif dibanding kompetitornya karena mereka lebih serius berpikir untuk brandnya. “Biasanya pebisnis waralaba yang sukses sangat paham dengan karakter usahanya dan sangat menguasai bidang usahanya. Istilah lainnya mereka ‘main kedalaman’, mereka paham a hingga z tentang semua hal yang berhubungan dengan usahanya. Dengan demikian akan sangat mudah bagi mereka untuk membuat inovasi,” terangnya.

McDonald, kata Djoko, adalah salah satu waralaba kelas dunia yang selalu tampil inovatif dengan varian-varian produknya yang selalu ada yang baru. Waralaba Warung kekinian seperti WaKaKa dan Sang Pisang dengan keunikannya adalah contoh brand lokal yang inovatif. Mereka mampu membuat produk dan suasana yang berbeda dan menjadi tempat favorit yang disukai target marketnya.

“Banyak waralaba baru yang inovatif yang saya temui di beberapa pameran franchise, contohnya ada Sumo Sushi Bar, sebuah konsep baru makanan sushi murah serba 15 ribu dengan konsep konveyor yang menarik. Ada juga konsep hotel waralaba yang menarik. Pebisnis waralaba baru yang mau berpikir seharusnya akan lebih inovatif karena mereka bisa belajar dari waralaba sebelumnya yang sudah ada,” tambahnya.

Kelebihan merek yang selalu inovatif, tandas Djoko, selalu menarik minat customer untuk datang karena selalu penasaran dengan sesuatu yang baru. Kelebihan merek yang inovatif selalu jadi topik perbincangan yang selalu menarik.

Bagi calon investor, memilih waralaba juga harus yang inovatif. Pasalmnya, kata Djoko, hanya brand yang inovatif yang mampu hidup jangka panjang. Tanpa inovasi dan kreasi, sebuah brand akan stagnan dan akhirnya akan mati.

Lalu bagaimana cara melakukan inovasi pada sebuah bisnis? Burang mengatakan, untuk melakukan sebuah inovasi, perlu berorientasi pada target market/pelanggan kita. Perlu melihat perilaku konsumen dan pergeseran kebutuhan mereka. Bisa jadi tren pelanggan kita bergeser pada digital. Bisa jadi pelanggan kita akan semakin concern kepada kesehatan. Dan lain sebagainya.

Inovasi, sekali lagi, tegas Burang, adalah salah satu dari tiga hal terpenting dalam pengelolaan waralaba. Training, Inovasi dan Organisasi. Brand-brand waralaba lokal yang tetap eksis dalam 10 tahun terakhir ini nyata sekali mereka melakukan berbagai inovasi yg kreatif, baik disisi produk atau jasanya maupun business modelnya. Brand-brand itu antara lain: Excelso, Es Teler 77, Digi Kids, Salon Moz5, Kiddy Cut, Alfamart, Indomaret, dan lain sebagainya.

Selain inovasi, Burang menyarankan kepada calon investor untuk memilih bisnis waralaba yang memiliki Tim organisasi, punya Training center dengan program-program yang berkesinambungan, serta memiliki pusat Penelitian & Pengembangan yang mengkaji serta menerapkan inovasi-inovasi 10 langkah kedepan.

Djoko mengakui, membuat inovasi bukanlah hal sulit, namun pebisnis sering tidak punya waktu untuk memikirkan brandnya dan hanya sibuk dalam kegiatan operasional. Pebisnis tidak pernah memikirkan usahanya secara mendalam sehingga mengalami kesulitan menemukan ide-ide baru yang inovatif.

Untuk bisa melakukan inovasi, kata Djoko, pebisnis harus punya waktu untuk memikirkan usahanya. Jika tidak mampu berpikir sendiri maka pebisnis harus melibatkan timnya untuk berpikir lebih kreatif dan inovatif. Ada sebuah metode pengembangan bisnis agar lebih inovatif, yaitu SCAMPER (Substitution, Combination, Adaptation, Modification, Put in Another Use, Elimination, Reverse). Substitution bicara tentang bahan baku pengganti yang menarik.

Combination, jelas Djoko, yaitu membahas bagaimana menggabungkan beberapa bahan baku dan menyatukannya. Adaptation membahas tentang penyesuaian produk karena keadaan agar lebih sesuai. Modification berarti memodifikasi produk agar lebih menarik. Put in Another Use berarti berpikir penggunaan produk untuk fungsi yang berbeda.  “Elimination membahas tentang proses mengeliminasi fungsi yang sudah tidak diperlukan. Dan yang terakhir  Reverse bicara tentang cara lain yang terbalik untuk membuat produk makin beda,” ujarnya.  

“Pebisnis harus selalu berpikir, berpikir dan berpikir secara terus menerus. Tidak ada kata berhenti untuk berinovasi. Selama perusahaan masih berjalan maka pebisnis harus selalu berpikir kreatif. Hal ini dikarenakan bahwa salah satu kunci sukses bisnis adalah inovasi,” sambungnya.

Umumnya, kata Djoko, belum semua merek waralaba lokal tampil inovatif. Masih banyak yang tampil seadanya dan terkesan ikut-ikutan saja. Sudah pasti bisnis yang seperti ini tidak akan bisa berkembang karena tidak tahu dengan benar apa esensi bisnis yang dijalankannya.

http://www.majalahfranchise.com/award/1/the-most-innovative-brand-2018