Multi-brand Franchisee

Salah satu saran yang sangat terkenal terkait pengelolaan keuangan, atau tepatnya investasi, adalah: “Jangan taruh uangmu dalam satu keranjang.” Dalam waralaba, bila dana anda cukup, saran ini berarti, “Jangan hanya punya satu bisnis di satu lokasi saja.”

Selain satu merek waralaba di beberapa lokasi, saran tersebut bisa juga berarti memiliki beberapa merek waralaba. Tujuannya sama: berjaga-jaga dan antisipasi kebutuhan subsidi silang, apabila ada lokasi atau merek yang kurang berhasil. Tentu saja bila dana anda mencukupi.

Non-kompetisi

Untuk menjalani peran sebagai multi-brand franchisee, anda perlu berhati-hati dengan komitmen kon-kompetisi yang biasanya tercantum dalam Perjanjian Waralaba yang anda tandatangani. Pemberi waralaba di bidang pizza akan melarang anda memiliki bisnis pizza di lokasi lain kecuali merek waralaba yang diwaralabakan kepada anda. Pemberi waralaba di bidang bimbel akan melarang anda memiliki bisnis bimbel di lokasi lain kecuali merek waralaba yang diwaralabakan kepada anda.

“Profil Pasar” dan “Musim”

Dua hal yang penting diperhatikan oleh multi-brand franchisee dalam memilih merek-merek waralaba adalah “profil pasar” dan “musim”.

“Profil pasar”, selain untuk strategi komunikasi pemasaran, sangat penting dalam menentukan lokasi gerai. “Musim” di sini adalah periode ramai dan sepinya bisnis. Misal bisnis di kota Yogyakarta yang didominasi pelajar dari luar kota, akan ada bulan-bulan sepi ketika para pelajar luar kota ini kembali ke kota mereka masing-masing. Kota Jogja memang dibanjiri wisatawan di musim liburan, namun pelajar-pelajarnya “menghilang”.

Bisnis yang bersandar pada para mahasiswa, misal laundry kiloan di Jogja, kemungkinan besar akan mengalami penurunan transaksi penjualan yang signifikan di musim liburan. Memiliki bisnis (waralaba maupun bukan waralaba) di bidang kuliner khas daerah dekat hotel atau penginapan mungkin dapat membantu arus kas penerima waralaba. Sebaliknya, bila investor membeli waralaba laundry kiloan dan bimbel, bisa jadi pada bulan-bulan liburan tidak diperoleh “pertolongan” yang signifikan karena profil pasar dan musim dari kedua bisnis tersebut cenderung sepi.

Keuangan

Disiplin pengelolaan keuangan sangat penting untuk diperhatikan oleh multi-brand franchisee. Meski salah satu tujuan memilik beberapa merek waralaba adalah untuk subsidi silang, pemisahan pencatatan keuangan wajib dilakukan dengan ketat. Perpindahan dana dari bisnis yang satu ke bisnis yang lain harus dicatat dan diperlakukan seperti utang piutang.

SDM

Hal lain yang harus diperhatikan adalah pengelolaan SDM. Biasanya setiap pemberi waralaba tidak menginginkan pengalihan pegawai dari bisnis yang satu ke bisnis yang lain, terutama di level kepemimpinan. Dalam operasional hariannya, perbedaan standar penggajian di dua atau beberapa merek waralaba yang dimiliki kadang menjadi permasalahan ketika sesama pegawai berbagi cerita mengenai sistem pengupahan mereka, apalagi ketika terjadi perbedaan yang signifikan pada gaji yang diperoleh tiap bulannya.

Tantangan Terkait Franchisee Multibrand

Menjadi franchisee multi-brand tentu saja memiliki tantangan yang tidak ringan. Cukup sering dijumpai di lapangan, franchisee multi-brand mengalami kesulitan beradaptasi dengan dua atau beberapa sistem bisnis yang berbeda, serta profil pasar dan perilaku konsumen yang mungkin juga berbeda drastis pula.

Franchisee mudah tergoda untuk membandingkan dua sistem yang berbeda. Kadang hal ini bisa menimbulkan perdebatan yang cukup tajam antara pemberi waralaba dengan penerima waralaba. Bagaimanapun juga pemberi waralaba tidak akan dengan mudah menerima suatu usulan karena sistem yang mereka bangun merupakan best practice yang telah mereka lewati dan teruji.

Kesimpulannya, multi-brand franchisee merupakan ide yang menarik tapi memiliki beberapa tantangan dan hal-hal penting yang harus diperhatikan.

 

 

© 2018, Utomo Njoto .. untuk Mei 2018

Senior Franchise Consultant dari FT Consulting – Indonesia.

Website: www.consultft.com

Email : utomo@consultft.com

 

 

Balik Modal
Ada kebutuhan mendesak untuk pengaturan lebih detail terkait transparansi informasi penawaran waralaba, BO, lisensi, kemitraan, atau apa pun istilah yang digunakan. Mengapa demikian? Persoalan utama
Read More
Terwaralaba Optimis versus Pesimis
Apa bedanya terwaralaba yang optimistik dengan terwaralaba pesimistik? Fred Berni, konsultan franchise recruitment, menceritakan bahwa ketika kinerja bisnisnya sedang kurang baik, terwaralaba yang
Read More
Autopilot ?
Beberapa waktu lalu, dan mungkin sampai dengan hari ini, kata-kata “autopilot” menjadi trend dalam gimmick untuk menjual jasa konsultasi, coaching, bahkan waralaba. Autopilot tersebut bermakna,
Read More
Saatnya Exit
Heboh tutupnya sevel ternyata telah melahirkan banyak pengamat kegagalan bisnis waralaba. Padahal fenomena kegagalan bisnis waralaba merupakan hal yang biasa terjadi juga sebelumnya. Beberapa merek wa
Read More