Franchisee Manakah Anda?

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(): php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known

Filename: views/V_article_details.php

Line Number: 14

Backtrace:

File: /home/trie/public_html/application/views/V_article_details.php
Line: 14
Function: getimagesize

File: /home/trie/public_html/application/views/V_page.php
Line: 104
Function: view

File: /home/trie/public_html/application/controllers/C_article.php
Line: 121
Function: view

File: /home/trie/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(http://www.majalahfranchise.com/res/fiona/drive/uploads/T-Questions.jpg): failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known

Filename: views/V_article_details.php

Line Number: 14

Backtrace:

File: /home/trie/public_html/application/views/V_article_details.php
Line: 14
Function: getimagesize

File: /home/trie/public_html/application/views/V_page.php
Line: 104
Function: view

File: /home/trie/public_html/application/controllers/C_article.php
Line: 121
Function: view

File: /home/trie/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

Dari sekian banyak Penerima Waralaba (franchisee), kita dapat melakukan pengelompokan berdasarkan keberhasilan dan sikap atau perilaku mereka dalam ber-interaksi dengan Pemberi Waralaba (franchisor).

 

Secara garis besar kita dapat membuat kuadran berdasarkan Kepatuhan dan Keberhasilan bisnisnya. Mari kita coba memahami kelompok-kelompok Penerima Waralaba ini.

 

1: Patuh & Sukses

Kelompok ini bisa dikatakan merupakan kelompok Penerima Waralaba (atau disebut pula terwaralaba) ideal yang diharapkan oleh semua pewaralaba. Kepatuhan merupakan tuntutan utama dari pewaralaba kepada setiap terwaralabanya.

 

Di lapangan harus diakui ada beberapa terwaralaba yang cenderung tidak patuh. Kelompok ini kadang merasa waralaba itu ibarat membeli hak untuk menggunakan merek pewaralaba, padahal hubungan waralaba itu ada batas waktunya. Selain itu, di dalam perjanjian waralaba dan Pedoman Operasional (atau SOP) juga banyak diatur hal- hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh terwaralaba.

 

Meski demikian, harus diakui bahwa adanya resiko bisnis menyebabkan tidak semua terwaralaba yang patuh akan meraih keberhasilan atau sukses dalam menjalankan bisnisnya.

 

2: Patuh, tapi Tidak Beruntung

Beberapa terwaralaba yang patuh bisa saja tidak beruntung, artinya bisnis yang mereka jalankan tidak memberikan hasil yang memuaskan sebagaimana yang diharapkan. Dengan asumsi bahwa pewaralaba bukanlah kelompok yang fraud atau curang (misal menyajikan angka-angka keuangan yang menyesatkan), ketidakberhasilan ini biasanya disebabkan karena resiko bisnis.

 

Resiko bisnis di sini bisa berarti perubahan arus lalu lintas seperti U-turn (putaran balik) yang digeser beberapa ratus meter ke depan, larangan parkir yang tiba-tiba diberlakukan di depan ruang usahanya, atau munculnya pesaing yang demikian kuat, kreatif dan menyulitkan terwaralaba dalam berkompetisi di lokasi tersebut.

 

3: Tidak Patuh, tapi Sukses

Kelompok ini biasanya sangat menyulitkan pewaralaba dalam mengambil keputusan tegas terkait kepatuhan. Terwaralaba yang tidak patuh tapi tergolong sukses akan cenderung berperilaku tidak patuh untuk jangka panjang, sampai suatu ketika ketidakpatuhan itu menjadi bumerang dan mengakibatkan bisnisnya mengalami kegagalan.

 

Selama masih merasa bisnisnya sukses, terwaralaba yang tidak patuh akan cenderung terus berperilaku tidak patuh. Yang perlu dicatat di sini, ketidakpatuhan ini bisa menular karena terwaralaba yang lain akan melihat adanya kompromi dan perlakuan khusus kepada terwaralaba kelompok ini.

 

Tentu saja kompromi seperti ini sangat tidak dianjurkan.

 

4: Tidak Patuh & Tidak Sukses

Kelompok ini biasanya merupakan kelompok terwaralaba yang akan tutup gerai dengan cepat. Berbeda dengan kelompok “patuh tapi tidak sukses” yang mungkin juga akan tutup gerai tapi biasanya masih menyandarkan harapannya pada pewaralaba, kelompok ini lebih memberontak dan emosional karena pada dasarnya memang cenderung memberontak terahdap sistem waralaba yang sudah disusun dengan cermat oleh pewaralaba.

 

5: Akselerator

Kelompok ini merupakan bagian kecil dari kuadran kelompok “Patuh & Sukses”. Kelompok ini merupakan pendorong pertumbuhan pesat seluruh jaringan waralaba karena proaktif memberikan masukan kepada pewaralaba, meminta pewaralaba melakukan pengembangan produk dan strategi-strategi baru. Beberapa terwaralaba yang menyumbangkan produk-produk baru yang nge-hits dapat dimasukkan ke dalam kelompok ini.

 

Kelompok ini positif bagi pewaralaba yang menyukai tantangan, namun akan dianggap merepotkan bagi pewaralaba yang enggan dibebani tantangan-tantangan baru.

 

Kita mengenal BigMac sebagai icon untuk McD. Sesungguhnya BigMac adalah ide dari salah satu terwaralabanya, yang setelah melalui proses evaluasi dan mungkin ada beberapa perbaikan, kemudian diadopsi untuk ditawarkan di seluruh jaringan McD ... bahkan menjadi icon merek ini.

 

Kelompok Manakah Anda?

 

© 2018, Utomo Njoto .. untuk April 2018

Senior Franchise Consultant dari FT Consulting – Indonesia.

Website: www.consultft.com

Email : utomo@consultft.com

 

 

Tantangan Jadi Layak Waralaba
Seorang pebisnis merasa yakin sekali bahwa bisnis restorannya sangat menguntungkan dan layak waralaba. Ternyata setelah dilakukan assessment atau evaluasi, bisnisnya masih belum layak waralaba. Ada ba
Read More
Investasi Maksimal
Hal menarik dalam perjalanan jasa konsultasi saya adalah kurangnya perhatian pebisnis dalam menghitung batasan nilai investasi maksimal yang layak dikucurkan dalam suatu bisnis. Banyak di antara merek
Read More
Tutup Gerai
Beberapa pebisnis sering bertanya, apakah “pernah tutup gerai” akan menghalangi peluang keberhasilan dalam mewaralabakan bisnis mereka. Tentu saja dari kacamata sebagian besar investor, “pe
Read More
Melewati Krisis
Setiap krisis memiliki dimensi dan dampak yang berbeda. Krisis tahun 1997-1998 misalnya, berdampak besar pada bisnis perbankan dan konglomerasi di Indonesia. Saat itu tercatat sedikitnya ada 16 bank d
Read More