Satay Kato. Mengipas Cuan Dari Bisnis Satay

Meski berkonsep kuliner kaki lima, namun omset bisnis satay ini terbilang cukup menjanjikan. Maka tidak heran baru satu tahun beroperasi sudah memiliki 25 cabang.

Di sudut kawasan Kemang, Jakarta Selatan terlihat asap mengepul cukup pekat ditambah dengan sekumpulan pengunjung yang didominasi anak muda turut mengelilinginya. Setelah dicermati, ternyata itu adalah sebuah usaha jajanan kaki lima yang tengah digandrungi saat ini.

Bisnis kuliner memang tidak pernah ada matinya. Selain menguntungkan karena siklusnya yang cepat, bisnis kuliner juga tergolong berisiko rendah. Terlebih untuk kuliner kaki lima seperti Satay Kato yang sedang menjadi tren kuliner saat ini.

Satay Kato sendiri mulai beroperasi sejak tahun 2016 lalu. Sepintas kuliner yang satu ini memang mirip dengan  Satay Taichan. Namun sang Founder Yuda Fajrin, menegaskan bahwa Satay Kato bukanlah Taichan seperti yang dikira. Melainkan Satay pedas dengan brand Kato. “Tampilannya saja yang mirip, namun rasa sangat berbeda,” tegas Yuda.

Jika banyak dari taichan berbahan dasar daging ayam bagian dada, berbeda dengan Satay Kato yang justru hanya menggunakan daging ayam bagian paha sebaga bahan bakunya. Satay Kato dari segi rasa juga cenderung lebih gurih dan juicy. Hal lain yang membedakannya berasal dari sambal, jika Taichan menggunakn sambal mentah, namun untuk Satay Kato yang digunakan adalah sambal yang dimasak.

Konsepnya yang kekinian membuat Satay Kato mudah diterima oleh konsumennya. Dengan gerobak kayu sebagai pusat dapur dan kursi-kursi yang tertata di pinggir jalan, Kato berusaha menyesuaikan konsep dengan selera generasi muda yang hobi nongkrong, senang dengan suasana santai dan terbuka.

Namun untuk produk, Satay Kato yang dibanderol dengan harga Rp20 ribu per porsi ini menyasar market dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, dewasa, hingga orang tua. Pelanggan Satay Kato pun biasa mengonsumsi satay hingga puluhan tusuk dalam sehari. Tempat yang cozy dan service yang baik, membuat Satay Kato pun banyak dikunjungi kalangan artis. Bahkan, tidak jarang Satay Kato mendapatkan pesanan hingga ribuan tusuk dari kalangan pejabat. 

Untuk calon investor yang tertarik menjadi franchisee Satay Kato, Yuda menjelaskan membuka peluang usahanya dengan nilai investasi Rp 75 juta. “Mekanismenya pun saya beli putus. Tak ada royalti fee, dan inevestor diperkirakan bisa balik modal dalam waktu sekitar 5-6 bulan,” ujarnya.

Omzet  rata-rata yang bisa dikantongi Satay Kato sebagai kuliner kaki lima bisa mencapai Rp50 juta per hari. Untuk omzet tertinggi, Satay Kato bisa mencapai omzet Rp70 juta sampai Rp80 juta per hari. “Kita buka dari sore hingga malam, dan rata-rata setiap cabang bisa habis terjual,” urainya.

Meski terbilang baru genap satu tahun berjalan, Satay Kato sudah memiliki 25 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Yuda menargetkan di tahun 2018 ini dirinya bisa membuka hingga 100 cabang. Ia juga optimis bahwa Satay Kato siap bersaing secara sehat dengan Satay Taichan yang ada.

Ade Komala

Mango Thai Asli Indonesia dengan Investasi Terjangkau
Jus mangga kekinian yang disajikan dengan gaya khas Thailand salah satunya yaitu MangoJack, merupakan sajian jus mangga asli yang dipadukan dengan whipped cream yang memiliki cita rasa yang berbeda. K
Read More
Sajian Bebek dengan Resep dari Pulau Asam
Saat ini resto yang menyajikan menu kudapan bebek kian digandrungi masyarakat Indonesia. Disamping kaya protein dan memiliki daging yang legit, bebek juga memiliki cita rasa tersendiri. Jika dipadu de
Read More
Ohayo Drawing School Pas untuk Mengasah Kreativitas Anak dan Tepat untuk Investasi
Sekolah yang satu ini sangat memahami bagaimana menyeimbangkan pertumbuhan otak kiri dan kanan anak. Melalui tiga kelas lukis yang dibuka, nama Ohayo Drawing School menjadi perbincangan banyak orang b
Read More
Menembus 200 Outlet Dalam 1 Tahun
Siapa yang menyangka, bisnis yang berawal dari pencarian di internet ini bisa memiliki 200 outlet lebih hanya dalam kurun waktu satu tahun. Seperti apa peluang bisnisnya? Didirikan oleh Cahyo Adhi W
Read More