Investasi Maksimal

Hal menarik dalam perjalanan jasa konsultasi saya adalah kurangnya perhatian pebisnis dalam menghitung batasan nilai investasi maksimal yang layak dikucurkan dalam suatu bisnis. Banyak di antara mereka yang mengandalkan perhitungan peluang dan besarnya pasar.

Beberapa di antara mereka memang berhasil meraih pasar yang diharapkan, tapi kemudian terperangah ketika menyadari bahwa biaya operasional dan investasinya tidak sepadan dengan laba yang diraih. Beruntung sebagian besar dari mereka berhasil diperbaiki model bisnisnya, sehingga kekeliruan (atau lebih tepatnya sikap mengabaikan perhitungan) ini tidak berlanjut terus ketika membuka cabang-cabang yang berikutnya.

Biaya Operasional

Suatu model bisnis harus bisa dihitung biaya operasionalnya. Secara sederhana biaya operasional ini berarti gaji para pegawai, biaya listrik, telepon, dan biaya rutin lainnya. Beberapa dari biaya operasional ini dikenal dengan istilah “biaya tetap”, beberapa lainnya “biaya variabel” yang berkaitan dengan omset penjualan. Contoh biaya variabel ini adalah, biaya LPG terkait dengan penjualan pada bisnis laundry kiloan yang mesin pengeringnya menggunakan gas LPG.

Biaya listrik bisa menjadi biaya tetap pada bisnis retail di mall. Namun demikian, biaya listrik bisa juga menjadi gabungan antara biaya tetap (untuk komputer dan lampu) dan biaya variabel (untuk peralatan mesin cuci, pengering, dan setrika listrik) pada bisnis laundry kiloan.

Biaya HPP

Biaya HPP (Harga Pokok Penjualan) atau biaya modal merupakan hal berikutnya yang harus dipahami ketika kita hendak memulai suatu bisnis, hendak mewaralabakan bisnis kita, atau hendak membeli suatu bisnis waralaba alias hendak menjadi penerima waralaba.

Biaya HPP ini harus dibedakan dari pengeluaran untuk membayar pembelian. Biaya HPP adalah biaya terkait produk yang terjual saja. Biasanya digambarkan bahwa HPP = stok awal + kiriman supplier – stok akhir.

Dalam praktek kita mengenal istilah kehilangan atau bahasa keren-nya shrinkage. Produk yang hilang akan membuat nilai HPP menjadi lebih besar dari yang seharusnya. Ketika kita mengevaluasi prospek suatu model bisnis, atau mengukur kelayakan waralaba suatu bisnis, biasanya kita bisa menihilkan unsur yang biasa saya beri istilah deviasi HPP. Beberapa pemberi waralaba menginginkan ada alokasi tertentu untuk deviasi ini, misalnya 1% dari total omset penjualan untuk bisnis retail.

Target Omset

Setelah memahami perkiraan atau perhitungan biaya operasional dan biaya HPP, maka langkah berikutnya adalah mengukur tingkat keyakinan kita terkait omset penjualan yang biasa diebut sebagai “target omset”. Dari sini kita akan mampu memperkirakan laba usaha kita, yaitu Laba Usaha = Omset – HPP – Biaya Operasional.

Membatasi Nilai Investasi

Tujuan kita bersusah payah menghitung dengan cermat seperti di atas adalah untuk mengetahui berapa nilai investasi maksimal yang pantas dikucurkan untuk suatu model bisnis. Bila laba usahanya (EBITDA, artinya sebelum dikurangi biaya depresiasi dan amortisasi) hanya sekitar Rp 3 juta sebulan, maka kira-kira investasi maksimalnya adalah sekitar Rp 90-100 juta saja, tidak termasuk modal kerja.

Bila nilai investasi (persisnya belanja modal) ternyata tidak bisa ditekan menjadi lebih rendah lagi, maka harus dicari jalan untuk meningkatkan laba operasionalnya, entah dengan melihat peluang bisa dicapainya omset yang lebih tinggi, atau HPP yang lebih rendah, atau menekan biaya operasionalnya.

Semoga bermanfaat bagi anda dalam memulai bisnis di Tahun Baru 2018 ini!

Senior Franchise Consultant dari FT Consulting – Indonesia.

Website: www.consultft.com

Email : utomo@consultft.com

 

 

eCommerce & Waralaba
Akhir-akhir ini makin banyak yang menanyakan kepada saya mengenai kebijakan eCommerce dalam sistem waralaba. Meski tidak ada aturan main yang baku, prinsip dasar waralaba yang win-win seyogyanya dijad
Read More
Private Equity Mengincar Waralaba
Anda tentu mengenal Saratoga Capital, perusahaan besar yang dimiliki Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaja. Ya, Saratoga Capital adalah merupakan contoh perusahaan Private Equity (PE) yang mengelola dana
Read More
Superior Business
Bisnis yang diwaralabakan seyogyanya merupakan suatu bisnis yang masuk kategori Superior Business. Faktanya, tidak semua yang hendak menjadi Pemberi Waralaba masuk kriteria ini. Mengapa harus superio
Read More
Beda Lokasi, Beda Karakternya
Sebagian besar pewaralaba dan terwaralaba hanya membedakan lokasi gerainya dalam bentuk: mall dan ruko. Sebagian mungkin menambahkan food court dan gerobak. Berikut ini informasi mengenai beberapa jen
Read More