Menciptakan Konsep Mini

Baru-baru ini dunia ritel supermarket dikagetkan oleh Hardy’s Supermarket yang dinyatakan pailit karena tak mampu lagi membayar tagihan hutang bank yang sudah jatuh tempo. Supermarket ini bisa dibilang penguasa pasar di daerah Bali yang sudah cukup dikenal. Bahkan sudah menjadi group bisnis yang tengah berkembang beberapa tahun terakhir. Namun laju bisnisnya harus terhenti karena dinyatakan pailit.

Banyak faktor yang membuat Hardy’s Supermarket tak mampu berkinerja baik seperti tahun-tahun sebelumnya. Selain induk bisnis ini terlalu ekspansif hingga tak mampu mengimbangi pemasukan bisnis, kolaps-nya Harydy Supermarket juga karena dipengaruhi faktor eksternal.

Salah satu faktor eksternalnya adalah daya beli masyarakat sedang turun, berdasarkan survei Nielsen Indonesia. “Penurunan daya beli khususnya di ritel sudah melebihi 20 persen pada 2017 ini. Ditambah lagi, daya saing Hardys turun karena gempuran ritel berupa minimart yang menjelajahi hingga pelosok dan menjamur di seluruh Bali,” ujar Pemilik PT Hardys Retailindo, I Gede Agus Hardiawan dalam sebuah wawancara di media. 

Pernyataan terakhir Hardiawan yang melihat menjamurnya ritel minimarket di Bali memang bukan sekedar spekulasi. Di sini seakan Hardiawan lupa untuk mendekatkan diri kepada pelanggan-pelanggan di berbagai pelosok terbiasa belanja mudah dan dekat, hingga peluang ini pun digarap oleh pemain minimarket.

Pemain besar supermarket lain sepertinya sadar akan ancaman sekaligus peluang ini. Giant misalnya sudah meluncurkan Giant Mart untuk menyasar segmen market minimarket. Kehadiran Giant Mart diharapkan mampu menggarap pasar yang jauh dari jangkauan Giant Ekstra dan Giant Ekspres

Sementara itu, Lotte Grosir juga meluncurkan konsep kemitraan berupa minimarket dan rombong untuk menggarap pasar yang belum digarap di segmen mimimarket dan ke bawah. Setidaknya, konsep kemitraan ini Lotte Grosir tidak hanya mengandalkan supermarket dan grosiran saja yang belakangan nampak berkurang gairahnya.  

Saya sendiri menilai konsep mini akan terus diluncurkan oleh perusahaan-perushaan besar untuk menjangkau pasar yang berada jauh di lokasi premium dan perkotaan. Karena prilaku konsumen saat ini menginginkan belanja yang praktis dan dekat dengan jangkauannya.

Es Teler 77 saja baru-baru ini meluncurkan konsep mini dengan meluncurkan Food Truck untuk menyasar segmen pasar di luar restorannya. Dengan konsep Food Truck Es Teler ingin memudahkan jangkauan pelanggannya.

Wong Solo  Group juga demikian, tengah gencar meluncurkan konsep Food Truck untuk memaksimalkan omset gerainya. Food Truck tersebut disebar di tempat-tempat keramaian seperti event, bazar, pameran dan lainnya. Bakmi Naga Resto juga tak mau ketinggalan dengan meluncurkan konsep mini yakni Bakmi Naga NGEBOOTH.

Anda pelaku bisnis mungkin tertarik meluncurkan konsep mini? Saya kira ini sangat diperlukan untuk mendongkrak omset, atau setidaknya menggarap segmen pasar lain sebelum digarap pesaing anda.  

 

 

Family Business dan Next Generation
Bulan lalu saya melakukan kunjungan ke AJBS Group, perusahaan besar yang memproduksi mur dan baut di Surabaya. AJBS adalah market leader di industri baut dan mur yang sudah berdiri sejak 1966. Perusah
Read More
Next Gen Franchising di Indonesia
Pada acara World Franchise Summit Indonesia, 25 November 2016  lalu, dalam sambutannya Anang Sukandar, Chairman Emiritius of Asosiasi Franchise Indonesia(AFI) mengatakan, industri franchise dan B
Read More
Seharusnya Sevel Tidak Secepat Ini Tumbang
Per 30 Juni 2017, 7-Eleven atau Sevel secara resmi telah menutup seluruh gerainya yang ada di Indonesia. Merek yang terlihat digdaya sejak beroperasi di Indonesia pada 2009 ini akhirnya tidak bisa ber
Read More
Perlunya Saling Mengingatkan
Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia tidak hanya sibuk mengurusi dirinya sendiri, tapi juga turut sibuk mengurusi urusan orang lain. Apalagi dengan hadirnya media sosial, kesibukan mengurusi orang lai
Read More