Ciptakan Epidemi

Belakangan, sejumlah merek bisnis ternama harus gulung tikar. Yang paling menjadi sorotan adalah di bisnis ritel. Sejumlah gerai ritel modern ternama berguguran di 2017. Sebut saja PT Modern Putra Indonesia yang menutup seluruh gerai 7-Eleven nya di Indonesia, hingga Lotus dan Debenhams yang ditutup oleh PT Mitra Adi Perkasa.

Selain itu, beberapa pusat perdagangan yang dahulunya ramai juga tiba-tiba meredup dan sepi pengunjung. Sebagai contoh Pasar Tanah Abang dan WTC Mangga Dua yang tahun-tahun sebelumnya ramai sekarang juga mengalami penurunan pengunjung. Banyak faktor yang menyebabkan pebisnis ritel dan pusat perdagangan meredup. Banyak yang menilai faktor utamanya adalah lesunya daya beli. Sebagian ada yang menilai beralihnya pembeli offline ke online.

Namun faktanya tidak demikian. Buktinya gerai-gerai ritel berkonsep specialty store seperti misalnya Carvil, Adidas, Uniqlo, Sport Station tetap ramai dikunjungi customer. Artinya, daya beli bukan faktor utama bangkrutnya para pebisnis ritel. Daya beli online juga tidak selalu menggerus daya beli offline.

Bahkan kalau bicara daya beli, bisa dibilang tidak lesu-lesu amat. King Mango tetap diantri pelanggan meski harus membeli secara offline. Kuliner lainnya seperti Pisang Nugget, Salted Egg Chicken, Thai Tea, Egg Cheesetart, Ayam Geprek, Sate Taicha tengah hits dan menjadi vilar. Bahkan kafe-kafe seperti Warunk Upnormal, Whats Up Café, Ropisbak Ghifari dan lainnya tetap ramai.

Specialty Store serta bisnis-bisnis yang saya sebutkan diatas masih tetap ramai karena mampu menggiring pembeli. Mereka mampu menciptakan epidemi untuk menarik pelangan agar membeli, baik secara offline maupun online. Whats Up Café dan Warunk Upnormal misalnya, mereka mampu menciptakan epidemic nongkrong di kafe dengan suguhan mie dan roti bakar.

King Mango mampu menciptakan epidemi untuk merasakan sajian mangga yang diblender dengan krim. Ayam Geprek Bensu mampu menciptakan epidemi menyantap ayam geprek yang berbeda dengan toiping keju melehnya. Makuta Bandung Laudya Chintya Bella buatan mampi menciptakan epidemi sehingga diikuti artis-artis lainnya.

Jadi daya beli yang lesu dan maraknya aplikasi online bukan faktor tutup atau bangkrutnya para pemain bisnis kaliber yang memang banyak di dunia ritel. Akan tetapi mereka tidak mampu bersaing dan menciptakan inovasi produk yang membuat terjadinya epidemi.

Salah satu contoh terbaik pencipta epidemi di kalangan anak-anak muda adalah Adidas. Merek ini bisa membuat epidemi salah satunya lewat produk Adidas Stan Smith. Asal tahu saja, Stan Smith adalah salah satu sepatu tenis keluaran Adidas yang diambil dari nama seorang pemain tenis veteran dengan nama yang sama, Stan Smith.

Sekilas tidak ada yang istimewa dari desain sepatu ini. Tapi desain ini rupanya menjadi fashion sneakers yang paling dicari karena memiliki siluet klasik yang clean. Istimewanya lagi, produk ini hanya terdapat di store Adidas dan diproduksi terbatas, Kontan saja produk ini menjadi viral dan jadi epidemi bagi anak-anak muda. Mereka merasa fashionable dengan memakai Adidas Stan Smith. Merek ini pun laris di pasaran. Adidas pun kembali menjadi merek yang fashionable, menyalip Nike yang selama ini mendominasi anak-anak muda.

 

 

 

 

Next Gen Franchising di Indonesia
Pada acara World Franchise Summit Indonesia, 25 November 2016  lalu, dalam sambutannya Anang Sukandar, Chairman Emiritius of Asosiasi Franchise Indonesia(AFI) mengatakan, industri franchise dan B
Read More
Konsumen Milenial yang Menawan
Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia dianggap sebagai pasar yang seksi baik oleh pelaku bisnis dalam negeri maupun luar negeri. Hasil sensus penduduk yang dilakukan oleh BPS tahun 2010 mencata
Read More
Memanfaatkan Go-Food sebagai Layanan Food Delivery
Setelah sukses mengenalkan bisnis ojek online kepada masyarakat Indonesia, CEO Gojek Indonesia Nadiem Makarim, mulai melebarkan sayap bisnisnya menyasar bidang lain. Platform yang dikembangkan Gojek m
Read More
Perlunya Saling Mengingatkan
Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia tidak hanya sibuk mengurusi dirinya sendiri, tapi juga turut sibuk mengurusi urusan orang lain. Apalagi dengan hadirnya media sosial, kesibukan mengurusi orang lai
Read More