Meraup Untung dari Bisnis Bimbel Tiki Taka

Dewasa ini makin banyak orang tua yang sadar bertapa pentingnya memberikan pelajaran tambahan bagi putra putri mereka di luar jam sekolah. Bimbingan belajar (Bimbel) senantiasa menjadi pilihan mereka. Selain bisa membantu anak dalam proses belajar, Bimbel juga kerap bisa lebih membantu anak dalam mengerjakan mata pelajaran di sekolah.

Potensi inilah yang dilirik oleh Mubarik Ahmad, selaku Owner Bimbel Tiki Taka. Pria yang akrab dengan sapaan Riki ini memulai bisnisnya sejak 2010 silam. Berawal dari sebuah lembaga les untuk mata pelajaran Matematika saja, kini Bimbel Tiki Taka sudah mulai dikenal luas oleh masyarakat.

“Ide membuka lembaga les matematika ini selain karena saya sendiri sangat menyukai pelajaran matematika, tapi juga saya melihat besarnya permasalahan siswa terhadap pelajaran ilmu hitung di tingkat awal (sekolah TK) dan juga matematika di tingkat SD. Hal ini jelas berhubungan sekali, karena ketika seorang anak kesulitan dalam menguasai ilmu hitung pasti,” ujarnya.

Walhasil, sambung dia, anak murid akan kesulitan dalam menguasai pelajaran Matematika di SD, dan pada akhirnya banyak orang yang menghindari pelajaran ilmu pasti ini di tingkat lanjut bahkan sampai jenjang perguruan tinggi.

Sadar akan perluasan bisnis, Riki lantas mengembangkan bimbel matematika di Kawasan Depok dengan nama Bimbel Tiki Taka. Waktu itu ia hanya bermodal tempat berukuran 4m x 8m. Namun tempatnya langsung penuh di tiga bulan pertama.

Riki lalu mengembangkan program bimbelnya, tidak hanya Matematika saja tapi juga program unggulan lain seperti Bimbel SD (Matematika, IPA, B. Indonesia, IPS, dan B. Inggris), Jemari Pintar Aritmatika, serta Calis (Baca Tulis). “Ini menjadikan Bimbel Tiki Taka sebagai Bimbel khusus untuk siswa TK dan SD dengan program terlengkap,” katanya.

Tak sampai di sana, Bimbel Tiki Taka juga memiliki satu program yang mereka kembangkan sendiri dan telah didaftarkan pada HAKI yakni program Jemari Pintar Aritmatika. “Pada program ini siswa akan diajarkan suatu metode berhitung cepat dengan menggunakan 10 jari tangannya,” lanjut Riki.

Riki menuturkan, Bimbel Tiki Taka membuat konsep dan fasilitas ruangan yang sesuai dengan kebutuhan siswa TK sampai SD  guna memberikan kenyamanan dan menjaga konsentrasi siswannya. Metode belajar semi private dimana setiap satu orang pembimbing hanya mengajarkan 4 orang siswa saja menjadi keunggulannya. “Para pengajar di Bimbel Tiki Taka pun merupakan pengajar yang berkualitas dan berpengalaman mengajar akademik serta memiliki pemahaman tentang psikologi anak,” jelasnya.

Menurut Riki, biaya untuk bisa belajar di Bimbel Tiki taka cukup terjangkau. Rate harga yang ditawarkan mulai dari Rp 240 ribu hingga Rp 400 ribu rupiah. Ini tergantung dari program apa yang diambil siswa nantinya.

 

Tawarkan peluang waralaba

Dari awal mula usaha ini dibangun, Riki mengaku sudah banyak peminat yang ingin melakukan kerja sama dengan dirinya. Namun baru pada tahun 2015, Bimbel Tiki Taka menawarkan peluang waralaba. Saat ini Bimbel Tiki Taka sudah memiliki 10 cabang yang tersebar di daerah Jabodetabek. Rencananya dalam beberapa bulan kedepan Bimbel Tiki Taka sedang mempersiapkan pembukaan 4 cabang lagi.

Setidaknya, kata Riki, kinerja cabang Tiki Taka yang rata-rata sudah meraih omset bagus bisa menjadi keyakinan untuk menawarkan peluang bisnis ini kepada calon investor. “Omzet setiap cabang berbeda-beda, mulai dari Rp 15 juta sampai Rp 50 juta rupiah per bulannya. Dengan profit antara 30%-60%,” tutur Riki.

Riki menilai, bisnis edukasi merupakan bisnis yang sangat potensial kedepannya. Berbagai alasan dikemukakannya, mulai pendidikan yang merupakan kebutuhan primer, pengelolaan yang mudah, resiko yang terbilang kecil, pasar yang semakin bertambah, sampai mudahnya mencari lokasi karena tidak harus berbentuk ruko.

Kerjasama yang ditawarkan dari Bimbel Tiki Taka adalah berupa sarana penunjang belajar dan sistem bisnis berasal dari mereka. Pihak mitra hanya menyiapkan tempat serta modal awal pembukaan untuk perapihan dan pembelian sarana dan prasarana pendukung.

Untuk franchise fee yang ditawarkan sebesar Rp 35 juta rupiah. Ini sudah termasuk biaya dukungan dari awal persiapan sampai launching nantinya. “Mulai dari survey analisa pasar, pelatihan hingga persiapan launching. Total investasi akan berbeda setiap cabang, rata-rata berkisar Rp 100 juta sampai Rp 200 juta rupiah,” kata Riki.

Perhitungan BEP rata rata yang bisa diterima mitra sekitar 1 sampai 2 tahun. Sedangkan untuk royalti fee berjenjang mulai dari 4% sampai dengan 10% sesuai jumlah siswa. “Setelah launching, mitra akan terus mendapatkan pendampingan dan konsultasi dalam pengelolaan bisnis. Cabang yang dimiliki mitra akan mendapatkan kunjungan secara berkala untuk melakukan evaluasi bisnis dalam perjalanannya,” pungkas Riki.

 

Ade komala

 

 

What's Up Cafe, Cafe kekinian yang akan difranchisekan
Terlahir lantaran banyaknya penikmat mie instan, Café ini mampu menaikkan derajat mie instan dengan menyajikan fasilitas dan suasana yang cozy. Tahun ini What’s Up Cafe menawarkan peluang
Read More
SAP Express Courier, Pendatang Baru yang Langsung Melejit
Pendatang baru di bisnis jasa kurir ini tidak bisa disepelekan. Bagaimana tidak, baru Agustus, 2014 lalu beroperasi tapi SAP Express Courier melejit menjadi pemain jasa kurir dengan memiliki 45 j
Read More
AGTL Ny. Nani S Eksis Sejak 23 tahun, dan Go Franchise
Restoran Ayam Goreng Tulang Lunak Ny. Nani S sudah beken di Jakarta. Pelopor ayam tulang lunak ini terkenal sebagai rajanya nasi boks. Tahun ini mulai difranchisekan. Jika kebetulan jalan-jalan ke
Read More
PT Sanindo Perkasa Abadi Peluang Bisnis Berprospek Cerah yang Belum Ada Pesaingnya
Kebakaran yang masih sangat sering terjadi di Indonesia, dan merupakan penyumbang penyebab bencana di Indonesia dengan angka mencapai 14%. Kebakaran bisa terjadi setiap hari, PT Sanindo Perkasa Abadi
Read More