Dunkin’ Donuts Menjadi Dunkin’

Di Indonesia, dan tentunya di Eropa dan negara Asia lainnya, nama Dunkin’ Donuts dikenal sebagai merek franchise donuts yang namanya sudah kesohor. Masyarakat Asia, khususnya Indonesia bisa kenal yang namanya donuts berkat merek ini. Bila menyebut nama donuts maka persepsi kita pun akan merujuk merek ini. Karena begitu kuatnya brand equity Dunkin’ Donuts.

Dunkin' Donuts sudah eksis selama lebih dari tujuh dekade, sejak toko pertamanya dibuka di Massachusetts, AS, pada 1950. Merek ini digukanan pada lebih dari 11.300 gerai di seluruh dunia, dengan 8.500 di antaranya di AS. Dunkin’ Donuts pun memimpin pasar donuts dunia hingga kini.

Namun baru-baru ini dunia franchise dikejutkan berita yang menyebutkan Dunkin’s Donuts merubah merek menjadi Dunkin’. Diberitakan oleh berbagai media ternama, pengubahan nama ini akan dimulai pada salah satu gerai yang dibuka pada Agustus ini di Pasadena, California.

Beberapa gerai lainnya yang menggunakan nama Dunkin' akan dibuka beberapa bulan kemudian. Pemilik Dunkin' Donuts, Dunkin' Brands mengumumkan, mereka akan membuka 380 hingga 450 gerai lagi hingga akhir tahun nanti.

Dunkin' Brands mengatakan, pergantian nama dilakukan tahun depan sehingga ribuan gerai yang tersebar di seluruh dunia harus menghapus kata Donuts pada papan nama. Demikian pula dengan plang-plang iklan mereka. "Uji coba ini bersesuaian dengan rencana perusahaan untuk mengembangkan citra perusahaan yang baru," demikian pernyataan resmi Dunkin' Brands. Manajemen Dunkin Brands belum benyak membeberkan rencana bisnis kedepan secara gamblang. Mereka tidak berbicara banyak sampai pada 2018 nanti, ketika mengeluarkan citra baru toko Dunkin’ Donuts. Namun ada indikasi, Citra baru Dunkin' Donuts diperkirakan tidak lagi berpusat pada makanan, tapi lebih menekankan minuman. Salah satunya kopi. Pernyataan resmi perusahaan menyatakan, mereka ingin menekankan kembali posisi sebagai "produsen minuman dan kopi yang unggul". Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan itu memang mulai bergerak agresif memasuki pasar produsen kopi dengan mengeluarkan produk baru seperti kopi beku. Di Amerika Serikat, menurut data IBIS World, Dunkin' Donuts memiliki pangsa pasar 62,1 persen pada industri donat.

Menurut saya, pergantian merek Dunkin’ Donuts merupakan langkah perusahaan untuk merejuvinasi bisnis. Sebab meskipun merek ini memang masih kuat sebagai penjual donut namun konsumen juga lebih banyak memesan kopi dan minuman coklat. Pesaingnya di Indonesia, JCO Donuts sudah melakukan itu sejak lama, bahkan lebih inovatif dengan meluncurkan berbagai varian produk yang unik, jadi tidak melulu donuts.

Seperti kita ketahui, orang pergi JCO tidak hanya membeli donuts, tapi untuk minum kopi dengan santai sambil meeting dan hang out. Sukses di Indonesia, JCO pun ekspansi ke luar negeri dengan pola franchise. Di luar sana JCO cukup sukses mengundang daya tarik konsumen.

Saya tidak berani mengatakan Dunkin’ Donuts menjadi follower JCO. Tapi pergantian konsep bisnis dari gerai ritel donuts menjadi kafe yang mengembangkan kopi adalah langkah yang sudah dilakukan JCO. Mengubah nama menjadi Dunkin’ tentu juga langkah yang berani di tengah merek yang masih kuat.

Mungkin pihak Dunkin' Brands tidak mengartikan merek seperti yang dikatakan Jack Trout dan Al Ries beberapa tahun yang lampau, mengubah persepsi konsumen dan membuat diferensiasi. Tapi lebih kepada pernyataan Shakespeare, “apalah arti sebuah nama. Andaikan kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi.”

 

 

 

 

 

Era Digital, Perusahaan Harus Adaptif dan Kreatif
Saat ini kita sudah memasuki jaman teknologi digital yang begitu pesat. Dan ini sudah memasuki seluruh aspek kehidupan. Oleh sebab itu, sudah seharusnya para pengusaha waralaba adaptif terhadap perkem
Read More
Memanfaatkan Go-Food sebagai Layanan Food Delivery
Setelah sukses mengenalkan bisnis ojek online kepada masyarakat Indonesia, CEO Gojek Indonesia Nadiem Makarim, mulai melebarkan sayap bisnisnya menyasar bidang lain. Platform yang dikembangkan Gojek m
Read More
Family Business dan Next Generation
Bulan lalu saya melakukan kunjungan ke AJBS Group, perusahaan besar yang memproduksi mur dan baut di Surabaya. AJBS adalah market leader di industri baut dan mur yang sudah berdiri sejak 1966. Perusah
Read More
Mix Development
Wajah bisnis Indonesia akhir-akhir ini memang sedang tidak bersuka cita. Beberapa pusat perbelanjaan yang dahulu menjadi favorit belanja kini sepi. Sebut saja Glodok, WTC Mangga Dua, dan Roxy Square m
Read More