Pameran Franchise Berskala Global Dibuka Presiden RI

Pertamakali dalam sejarah waralaba Indonesia, World Franchise Summit digelar di Indonesia. Ya, ini merupakan pertama kalinya Asosiasi Franchise Indonesia sebagai anggota World Franchise Council bisa menggelar World Franchise Summit di tanah air. World Franchise Summit Indonesia (WFSI) ini pun menjadi ajang unjuk gigi Asosiasi Franchise Indonesia di pentas global, di usianya yang memasuki 25 tahun.

Menariknya, Indonesia Franchise & SME Expo yang merupakan rangkaian acara World Franchise Summit Indonesia (WFSI),  kali ini dibuka oleh Presiden RI, Joko Widodo dengan pemukulan gong di Jakarta Convention Center, Senayan pada 25 November 2016. Dengan demikian, resmi dibuka pameran franchise berskala internasional (Indonesia Franchise & SME Expo) yang akan berlangsung pada 25 hingga 27 November 2016.

Dibukanya event franchise terbesar tahun ini oleh Joko Widodo, juga menandakan bentuk kepedulian Presiden RI terhadap industri waralaba Indonesia. Dalam sambutannya, Joko Widodo mengatakan, waralaba merupakan usaha yang amat modern, usaha abad 21, karena memiliki konsep yang baik untuk ekonomi, baik untuk efisiensi dan skala ekomoni yang hemat ongkos.

Menurutnya, konsep waralaba sangat cocok diterapkan di Indonesia, apalagi  waralaba memudahkan para pengusaha untuk berbisnis. Sebab, setiap bisnis waralaba sudah mempunyai standar masing-masing dan setiap calon pembeli waralaba tinggal mengikutinya. “Saya senang  sekarang muncul potensi-potensi bisnis waralaba. Kedepan itu akan menjadi kekuatan kita,” katanya.

Di suatu kota, lanjut Jokowi, usaha franchise bisa menjadi lambang. Jika di suatu kota ada Starbucks misalnya, bisa menjadi lambang internasional. “Saya juga ingin nantinya ada kopi lokal yang seperti Starbucks, saya ingin waralaba semacam Coffee Toffee bisa menjadi lambang,” ujarnya.

Jokowi juga mengingatkan akan potensi domestik yang besar sekali jika dikembangkan menjadi usaha waralaba. Maka itu harus dikembangkan secepat-cepatnya, karena mampu meningkatkan tenaga kerja. “Es Teler 77 itu menghabiskan berapa ton alpukat dan nangka dalam sehari. Kebab Turki Baba Rafi yang jumlah 1200 cabang itu mampu menyerap tenaga kerja berapa? Makanya harus cepat dikembangkan usaha waralaba ini,” tandasnya.

Sementara itu, Anang Sukandar, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia, tidak mampu menyembunyikan kegembiraanya. Dalam sambutannya pada pembukaan WFSI kemarin, Anang begitu bangga karena Indonesia tahun ini menjadi tuan rumah World Franchise Summit. “Padahal Asosiasi Franchise Indonesia merupakan anggota dan pendiri Asia Pacific Franchise Confederation,” katanya.

Anang mengatakan, waralaba adalah konsep bisnis yang unggul. Bahkan sejak 15 tahun terakhir industri ini semakin lebih hebat. Terbukti, waralaba mampu membantu UKM yang dengan modal terbatas bisa bersaing dengan usaha besar. Tukang es (red- Es Teler 77) yang semula berdiri di pinggir jalan bisa menjadi besar dan bersaing. “Sebuah apotek, hanya dalam waktu 10 tahun bisa berkembang bersaing dengan apotek besar yang usianya puluhan tahun,” ujarnya.

Zaziri

 

PDIH Untag Cetak Doktor Waralaba
Beberapa waktu lalu, Program Doktor Ilmu Hukum (PDIH) Untag menggelar ujian terbuka promosi doktor ilmu hukum atas nama Mulyani Santoso SH SpN MH. Mulyani berhasil mempertahankan desertasinya berjudul
Read More
Mie Kota Batavia Buka Gerai di Bali
Beberapa waktu lalu, tepatnya pada 21 April 2017, Mie Kota Batavia telah membuka gerainya di Level 21 Mall, Denpasar, Bali.
Read More
Snapy, Penguasa Pasar Yang Selalu Tampil Inovatif
Di bisnis digital printing nama Snapy sudah tidak asing di telinga kita. Keberhasilan mereknya tak lepas dari kesadaran merek ini melakukan branding mulai dari Social Media Activity, Public Relation A
Read More
Ray White, Gelar Anniversary Ke-21
Ray White yang dikenal sebagai household name di Indonesia (dimana term real estate sinonim dengan brand Ray White), baru saja merayakan anniversary-nya yang ke
Read More