Tantangan Jadi Layak Waralaba
Seorang pebisnis merasa yakin sekali bahwa bisnis restorannya sangat menguntungkan dan layak waralaba. Ternyata setelah dilakukan assessment atau evaluasi, bisnisnya masih belum layak waralaba. Ada banyak hal yang harus diperbaiki. Aspek apa saja yang biasanya menjadi tantangan para pengusaha yang hendak mewaralabakan bisnisnya. Margin keuntungan Salah satu dasar dari layak tidaknya suatu bisnis diwaralabakan adalah dari sisi keuangan, atau lebih tepatnya margin keuntungan bersih, atau net profit-nya. Margin keuntungan bersih ini sangat erat kaitannya dengan margin keuntungan kotor, yaitu selisih antara harga jual dengan harga modal. Seorang pengusaha makanan dengan konsep warung tenda di depan suatu rumah sakit mengatakan bahwa ia buka jam 5 pagi dan sebelum jam 10 pagi makanannya selalu ludes terjual semua. Dilihat dari luar, bisnis seperti ini layak waralaba. Tapi kalau ditelaah lebih mendalam, kesuksesannya ada pada harga jual yang murah meriah. Fakta tersebut berujung pada fakta berikutnya: margin keuntungannya sangat sulit dibagi dengan “pihak lain” atau penerima waralaba, atau mitra BO. Dalam waralaba ada beban biaya bulanan yang hendak diperoleh pemberi waralaba, yang harus dibayar oleh penerima waralaba. Biaya SDM Satu hal yang sering dijumpai pula adalah kenyataan bahwa seorang pengusaha menikmati laba yang cukup baik karena menekan jumlah pegawai. Beberapa bahkan juga menekan nilai upah pada pegawainya. Meski beresiko tingkat keluar masuk pegawainya sangat tinggi, pengusaha ini dapat melewati situasi tersebut dengan baik. Hal serupa tentu sulit dipraktekkan terus ketika bisnisnya diwaralabakan. Oleh karena itu, dalam evaluasi kelayakan waralaba saya sering menjumpai bahwa ketika faktor biaya SDM ini “dinormalkan” ternyata bisnisnya tidak terlalu menarik untuk ditawarkan sebagai waralaba kepada calon investor (bila menggunakan penyajian angka yang jujur). Target Penjualan Khusus bagi bisnis yang hanya punya satu atau dua gerai saja dan sudah berjalan belasan tahun, saya biasanya memberikan tantangan untuk buka cabang lagi. Dalam hal ini harus ditata persiapannya dengan terinci. Strategi launching-nya harus sedemikian rupa agar dapat secepatnya menyamai, atau setidaknya mendekati, angka penjualan yang sudah dicapai oleh gerai lamanya. Ketika ia membuka gerai baru, ternyata tidak mudah untuk mencapai angka penjualan di gerai yang sudah belasan tahun beroperasi itu. Ini kenyataan lapangan yang sering diabaikan para pembeli atau penerima waralaba. Mereka terlalu yakin bahwa dengan membeli merek waralaba yang sudah terlihat ramai (walau itu karena adanya faktor waktu yang cukup lama untuk mencapainya) gerai waralabanya akan seramai gerai pemberi waralaba yang sudah belasan tahun beroperasi. Tiga hal tersebut merupakan sebagian dari tantangan yang harus dihadapi para pebisnis yang hendak mewaralabakan bisnisnya.   Utomo Njoto, FT Consulting Website: www.consultft.com Email : utomo@consultft.com   Quote (jika ada space): Ketika ia membuka gerai baru, ternyata tidak mudah untuk mencapai angka penjualan di gerai yang sudah belasan tahun bero
The Good, The Bad, and The Ugly
Bulan ke-12, saatnya mengejar sisa target (masih cukup waktukah?), lalu mengevaluasi kinerja. Ada yang sukses meraih target, ada yang terjungkal kinerja penjualannya, ada yang sudah ngos-ngosan arus k
Read More
Peluang & Resiko
Masih banyak yang bertanya kepada saya, “Franchise mana yang bagus sekarang?” Bagus itu Relatif Saya sering mengatakan bahwa’ “Franchise yang bagus belum tentu bagus untuk an
Read More
Franchisee Manakah Anda?
Dari sekian banyak Penerima Waralaba (franchisee), kita dapat melakukan pengelompokan berdasarkan keberhasilan dan sikap atau perilaku mereka dalam ber-interaksi dengan Pemberi Waralaba (franchisor).
Read More
Memperpendek Kurva Belajar
Beberapa waktu lalu ada wartawan yang bertanya kepada saya, “Menurut Bapak, hal-hal apa saja yang harus dipertimbangkan seseorang ketika memilih konsultan waralaba?” Saya menjawab, &ldquo
Read More