Antonius C. Tony, Dari Sebuah Kontrakan Sukses Berbisnis Masakan Jepang dengan Omzet Miliaran

Kesuksesan Oto Bento di industri franchise tak lepas dari tangan dingin pria yang hobi traveling ini. Bermodalkan 17 juta rupiah, usahanya kini sudah memiliki jaringan franchise puluhan gerai yang tersebar di kota besar Indonesia dengan omzet fantastis.    

Di industri kuliner Indonesia, nama Hoka Hoka Bento boleh bercokol sebagai salah satu merek kuliner papan atas di sektor japanese fast food. Namun di industri franchise nama Oto Bento tidak bisa diremehkan. Merek ini selalu hadir di setiap pameran franchise. Di setiap ajang penghargaan merek ini juga selalu tampi sebagai salah satu pemenang.

Ya, Oto Bento adalah salah satu franchise lokal yang dibesut Antonius C. Tony. Pria yang akrab disapa Tony ini berhasil mengembangkan Oto Bento menjadi salah satu merek franchise yang dipehitungkan. Saat ini jumlah cabangya 72 gerai yang tersebar di indonesia mulai dari pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Bali.

Tak heran jika omzetnya menggiurkan. Saat ini bisnisnya mampu mendulang omzet kurang lebih Rp 1 miliar perbulan, dengan ratusan ribu menu yang terjual setiap bulannya. “Paket menu Oto Bento dijual mulai dari Rp 15 ribu. Padahal usaha ini didirikan dengan modal yang tidak terlalu besar,” ujar Tony.

Tony mendirikan Oto Bento pada 9 Desember 1999 dengan modal terbatas, Rp17 juta yang didapat dari pinjaman saudaranya. Tidak ada perencanaan khusus ketika memulai usaha. Ia mulai memproduksi dan membuka usaha di sebuah rumah kontrakan. “Cara memasarkannya pun awalnya sederhana, dari mulut ke mulut dan door to door,” kenang pria kelahiran Jakarta, 17 Maret 1970 ini.

Karena memulai dengan modal terbatas, pria yang sejatinya seorang sarjana STIE Universitas Trisakti ini belum dapat memproduksi dengan jumlah yang banyak. Ia memproduksi tergantung dari pesanan saja.

Ia juga mencari supplier yang menyediakan bahan baku murah, agar bisa memproduksi dan menjual dengan harga terjangkau. Disamping itu, ia juga mencari alat-alat produksi yang masih bekas, namun tetap bisa digunakan secara maksimal.

Tenaga kerja pun terbatas. Semua administrasi masih dilakukan sendiri secara manual. Untuk pemasaran masih dilakukan secara word of mouth sendiri. Begitupun produksi dilakukan sendiri dibantu beberapa karyawan. “Sementara itu, penjualan terus kita upayakan dengan melakukan promosi dari teman ke teman,” katanya.

Namun usahanya masih belum berjalan mulus, karena pada saat itu kurangnya minat masyarakat akan produk frozen food sehingga produksi yang dilakukan tidak rutin, hanya bila ada pesanan saja.

Kendati demikian Tony tak patah semangat. Dengan passion yang  tinggi, ia fokus menggeluti usaha ini, tidak tergiur beralih usaha lain. Dia terus membangun relasi dengan mulut ke mulut teman sejawatnya, sambil melakukan inovasi rasa dan produk dengan mengembangan berbagai varian menu.

Hingga akhirnya ia mencoba membuka restauran dengan konsep kaki lima. Namun itu juga tak berjalan lancar. Ia harus harus pindah-pindah lokasi untuk mencari lokasi yang strategis. “Maklum saja, orang belum banyak yang mengenal brand Oto Bento,” bebernya. 

Lambat laun, dari kerja kerasnya mengenalkan produknya dari mulut ke mulut, maka Oto Bento mulai dikenal masyarakat. Beberapa teman ada yang ingin ingin bergabung dengan membuka Oto Bento dengan konsep restauran kaki lima. Dalam waktu satu tahun ia pun sudah balik modal.

Seiring dengan banyaknya minat masyarakat, pada 2008 Oto Bento menawarkan peluang franchisenya dalam bentuk kios dan booth. Di tahun 2010, ia mulai mengembangkan bisnisnya dengan bentuk ruko. Dan pada 2018, mengembangkan franchise dengan bentuk café and resto.     

Untuk menjaga pertumbuhan bisnisnya, Tony berupaya melakukan inovasi mengeluarkan varian menu dan konsisten menjaga standar rasa produknya. Ia jugga menganalisa, memperbaiki sistem dan mengikuti perubahan selera pasar agar tetep bersaing di pasar kuliner yang semakin banyak pendatang baru.

Tony menuturkan, Ide mendirikan usaha ini karena melihat peluang yang waktu itu, di mana usaha kuliner Japanese food mulai disukai masyarakat, namun belum ada yang menyentuh segmen menengah bawah. Selain itu, Tony juga punya passion di bisnis kuliner.  

“Mendapatkan ide dari belum banyaknya makanan jepang khususnya di luar Jakarta dan dilihat ada peluang untuk masuk ke market Indoensia. Dengan adanya peluang tersebut saya mulai bisnisnya dengan menjual bento dalam bentuk frozen food,” jelas Tony.

Ia mengatakan, salah satu faktor kunci suksesnya ialah menawarkan prduk makanan dengan rasa yang enak dan cocok untuk lidah masyarakat indonesia. Produk yang dijual sehat tanpa bahan pengawet, lalu harga yang dijual pun murah sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Meski sudah sukses mengembangkan usaha franchisenya ke berbagai daerah, Tony tidak lantas berpuas diri. Melihat persaingan di bisnis kuliner semakin ketat, ia pun juga terus belajar dan mempelajari market yang ada.

Visinya kedepan menjadikan Oto Bento sebagai Japanese Fast Food Modern yang terbaik dan tersebar di seluruh Indonesia dan mampu bersaing secara global. “Untuk itu kami memberikan layanan prima, menjaga cita rasa masakan kami, dan berstandar resto modern. Disamping itu melakukan inovasi secara konsisten dengan memberikan suasana bersantap yang nyaman dan mengikuti kebutuhan serta selera konsumen yang terus berubah,” tutupnya.

Zaziri

 

 

 

 

Pierre Senjaya, Sukses Berkat Niat Baik dan Campur Tangan Tuhan
Pernah mendengar sekolah internasional Stella Maris? Eksistensi dan kesuksesan sekolah tersebut tidak akan terlepas dari peran pria kelahiran Jakarta 01 September 1979 ini. Stella Maris berdiri sejak
Read More
Darmadi Darmawangsa, Pria Dibalik Kesuksesan Broker Property Asal Amerika
Sudah 20 tahun pria bernama lengkap Darmadi Darmawangsa eksis di dunia properti Indonesia. Memulai kariernya di PT Intiland Development Tbk, waktu itu ia memegang proyek Surabaya dan Jakarta. Awalnya
Read More
Dini Novita, Srikandi Dibalik Suksesnya Fun Science Indonesia
Paras cantik dengan senyum manis yang terbungkus rapi dengan hijab berwarna cream, melahirkan decak kagum siapa saja yang melihatnya. Bukan hanya karena kecantikannya, tetapi amanah yang diembannya.
Read More
Lim Fifi Anggreani, Jenuh Berkarier di Perbankan Tekuni Bisnis Spa Bayi
Bagi sebagian orang, berkarier di perusahaan perbankan merupakan suatu kebanggaan. Selain memiliki prospek karier dan gaji yang baik, kerja di bank juga sebuah prestige tersendiri, apalagi jika jabata
Read More